Minggu, 06 Mei 2012

RT/RW-Net Yang Makin Meraja

Penggunaan internet yang makin marak, membuat banyak orang kemudian berpikir untuk makin mendekatkan teknologi yang semula rumit dan mahal itu kepada masyarakat. Bukan hal baru lagi, jika wajan dan tutup panci bisa digunakan sebagai antena untuk menangkap sinyal agar bisa mengakses internet.

Yang menarik, jika penggunaan internet tersebut dilakukan banyak warga untuk menggali potensi yang ada di wilayahnya masing-masing. Di Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat misalnya, warga di empat desa yaitu Cilampeni, Pangauban, Sangkanhurip, dan Sukamukti bisa mengakses internet melalui RT/RW-net, jaringan internet murah yang bisa diakses di lingkungan desa.

Jika didefinisikan, RT/RW-Net adalah jaringan komputer swadaya masyarakat dalam ruang lingkup RT/RW melalui media kabel atau wireless 2.4 Ghz dan hotspot sebagai sarana komunikasi rakyat yang bebas dari undang-undang dan birokrasi pemerintah. Pemanfaatan RT/RW Net ini dapat dikembangkan sebagai forum komunikasi online yang efektif bagi warga untuk saling bertukar informasi, mengemukakan pendapat, melakukan polling ataupun pemilihan ketua RT/RW dan lain-lain yang bebas tanpa dibatasi waktu dan jarak melalui media e-Mail/Chatting/Web portal, di samping fungsi koneksi internet yang menjadi fasilitas utama. Bahkan fasilitas tersebut dapat dikembangkan hingga menjadi media telepon gratis dengan teknologi VoIP.

Membangun RT/RW Net merupakan suatu konsep di mana beberapa komputer dalam suatu perumahan atau blok dapat saling berhubungan dan dapat berbagi data serta informasi. Konsep lain dari RT/RW Net adalah memberdayakan pemakain internet di mana fasilitas internet tersedia selama 24 jam sehari selama sebulan di mana biaya yang akan dikeluarkan akan murah karena semua biaya pembangunan infrastruktur, operasional dan biaya langganan akan ditanggung bersama.

Sebagian dari mereka memilih media wajan dan tutup panci sebagai penerima sinyal. Sementara sebagian yang lain memilih media kabel. Dengan biaya Rp100.000 per bulan, sekitar 30 warga Kecamatan Katapang bisa mengakses internet secara tak terbatas (unlimited). ”Kecepatannya bisa dibandingkan dengan provider internet yang lain. Dengan RT/RW-net, kita bisa mendapatkan kecepatan internet hingga 1 megabyte per detik,” jelas Supriatna, salah seorang pengurus layanan RT/RW-net di Kecamatan Katapang, (22/1).

Wajan bisa digunakan untuk menangkap sinyal dengan jarak antara 100-500 meter. ”Sementara kalau di bawah 100 meter, bisa menggunakan kabel,” ujar Supriyatna. Alat yang diperlukan untuk mengakses internet lewat media wajan pun menurutnya tergolong mudah.

”Tinggal sediakan wajan berdiameter 45 sentimeter dan pipa paralon berukuran 3 inci yang di dalamnya dipasangi Wi-Fi USB. Sekarang di Kec. Katapang sudah ada beberapa pengurus layanan RT/RW-net,” ucapnya.

Pada awalnya, kata Supriyatna, banyak warga yang tertarik berlangganan internet karena alasan hiburan. ”Tapi ke sini-sininya malah mencetuskan kreativitas warga. Misalnya kalau ada kegiatan di Kecamatan Katapang, mereka langsung mem-posting melalui blog,” kata Supriyatna, yang juga merupakan salah seorang administrator dari situs Kecamatan Katapang. Dalam 10 bulan, jumlah pengunjung mencapai 28.441 orang.

Bicara mengenai situs atau blog, Kecamatan Katapang juga memiliki blog yang memiliki alamat (hosting) di www.kecamatan.katapang.net. Selain berisi berita dan kejadian sehari-hari, situs ini juga biasa digunakan masyarakat untuk memunculkan potensi di desa masing-masing.

Camat Katapang Nina Setiana mengakui manfaat  situs tersebut sangat besar. ”Saya jadi tahu secara langsung aspirasi dari masyarakat. Kami juga bisa mengevaluasi pelayanan yang telah kami berikan kepada mayarakat,” kata Nina.

Nina juga mengatakan, pelayanan publik online melalui internet merupakan tujuan yang ingin diraih. ”Sepertinya enak ya kalau warga bisa mengurus surat-surat, sertifikat, dan keperluan kependudukan hanya dengan mengklik dari rumah. Makanya kami akan terus mendukung pengadaan internet di Kecamatan Katapang,” ucapnya. 

Sebenarnya di Bandung sudah cukup banyak berdiri RT/RW Net, hanya saja mereka kurang terekspos melalui media misalnya karena hanya mengandalkan website untuk unjuk eksistensinya. Bahkan sudah banyak berdiri komunitas RTRW Net. Mereka pun membuat web untuk merangkul komunitas. Sebut saja www.vilanusaindah.com di Bekasi, www.griyamelati.net di Bogor, www.topazpermata.com di Kota Cimahi, Jawa Barat, www.gadingmas.com di Jakarta, www.rt-net-kapelima.com di  Bandung, dan masih banyak lagi.

Pakar Internet Onno W Purbo mengatakan, RT/RW-net sebetulnya produk hasil jerih payah banyak rakyat di Indonesia yang mendambakan internet murah. Dari sisi kebijakan RT/RW-net memperlihatkan sebuah fenomena ketidakadaan ruang legal bagi infrastruktur berbasis komunitas, yang di bangun dengan peralatan buatan sendiri, dari rakyat, oleh rakyat, oleh rakyat. Tidak ada ruang legal bagi infrastruktur Wireless Internet menggunakan WiFi.

”Adanya peralatan teknologi informasi yang mutakhir tidak cukup. Keberhasilan RT/RW-net di Indonesia terjadi karena adanya proses pemandaian masyarakat tentang alternatif teknologi internet yang murah. Belakangan hari, teknologi wireless internet tampaknya menjadi tulang punggung RT/RW-net di Indonesia,” kata Onno kepada Biskom.

Istilah RT/RW-net pertama kali digunakan sekitar tahun 1996-an oleh para mahasiswa di Universitas Muhammadyah Malang (UMM) yang menyambungkan kos-kos-an mereka ke kampus UMM yang tersambung ke jaringan AI3 Indonesia melalui GlobalNet di Malang dengan gateway internet di ITB. Sambungan antara RT/RW-net di kos-kosan ke UMM dilakukan menggunakan walkie talkie di VHF band 2 meter pada kecepatan 1200bps.

“Secara bercanda para mahasiswa Malang ini menamakan jaringan mereka RT/RW-net karena memang di sambungkan ke beberapa rumah di sekitar kos-kosan mereka,” kata Bino yang waktu itu masih bekerja di GlobalNet.

Implementasi yang serius dari RT/RW-net dilakukan pertama kali oleh Michael Sunggiardi di perumahannya di Bogor sekitar tahun 2000-an. Banyak kisah sedih yang diceritakan Michael lantaran sulitnya mencari pelanggan di awal 2-3 tahun operasi RT/RW-net-nya. Sebagian besar tetangga Michael saat itu tidak merasa butuh akses Internet 24 jam dari rumahnya.

Waktu itu, Michael banyak menggunakan kabel LAN untuk menyambungkan antar rumah. Karena lebih reliable dan lebih murah dibandingkan dengan menggunakan radio/wireless LAN/ Wireless Internet. Namun belakangan, tampaknya lebih banyak RT/RW-net yang menggunakan wireless internet karena lebih mudah dan harga peralatan yang makin murah.

Di tahun 2005-2006, setelah frekuensi 2.4GHz dibebaskan. Tampaknya RT/RW-net menjadi sangat booming, hal ini dapat dimonitor dari dekat dari berbagai diskusi yang terjadi di mailing list indowli@yahoogroups.com, banyak sekali permohonan akses RT/RW-net yang dilayangkan ke mailing list indowli@yahoogroups.com.

Berita yang menarik terjadi di Bandung, beberapa kos-kosan juga mengembangkan kos-kos-an Net di bawah RT/RW-net dan menarik sekitar Rp. 50.000 / bulan untuk setiap anak kos yang mengakses Internet 24 jam. Dengan cara ini Internet menjadi sangat terjangkau untuk para mahasiswa.

Seperti biasa, setelah berjalan beberapa mulai terjadi tindakan represif terhadap RT/RW-net yang di sweeping Balai Monitoring POSTEL. Argumentasi yang digunakan adalah ijin ISP, agak ajaib sebuah RT/RW-net kalau harus memiliki ijin ISP yang di tanda tangani oleh seorang menteri. Bayangkan Menkominfo harus menanda tangani juta-an ijin RT/RW-net seluruh Indonesia? 

Antenna Wajan, atau Wajanbolic e-goen merupakan terobosan dalam Teknologi RT/RW-net. Antenna Wajanbolic e-goen dapat menjadi client yang murah dalam sebuah RT/RW-net sehingga kita dapat ber Internet dengan murah. Internet murah bukan berarti mencuri bandwidth dan berinternet gratis, seperti kebanyakan orang menyangka. Internet menjadi murah karena beban biaya ditanggung ramai-ramai oleh banyak pengguna di sebuah RT/RW dalam RT/RW-net.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.