Jumat, 18 Mei 2012

Stroke bayangi puluhan juta jiwa kaum muda

Sebanyak 12 juta penduduk Indonesia berumur di atas 35 tahun berpotensi terserang stroke, selain ancaman penyakit dari jenis penyakit non-infeksi lainnya. Hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi penyebab utama kejadian stroke di Indonesia.
Hal itu mengemuka dalam Sarasehan Nasional Peduli Stroke yang diadakan  di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.
Menurut Kamil Kinali, Ketua Himpunan Peduli Stroke, prediksi angka tersebut diperoleh dari hasil penelitian Kantor Kementerian Kesehatan yang dikumpulkan dari seluruh rumah sakit di Indonesia. ”Perlu upaya komprehensif untuk mengendalikan faktor risiko stroke di tengah masyarakat,” kata Kamil, Sabtu lalu.
Oleh karena itu, pemerintah harus mengembangkan langkah- langkah strategis untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat. Salah satunya adalah dengan sosialisasi yang lebih gencar tentang penyebab stroke, pencegahannya, pengobatan, hingga penatalaksanaan pemulihan serangan stroke.
Stroke adalah kerusakan otak akibat sumbatan pada pembuluh darah otak atau pecahnya pembuluh darah di otak. Menurut Salim Haris, dokter ahli saraf Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), sebagian besar stroke disebabkan oleh sumbatan (sekitar 85 persen) dan sisanya karena perdarahan (15 persen).
Kerusakan otak menyebabkan kecacatan sehingga sangat memengaruhi kualitas hidup penderita atau keluarganya. Selain kehilangan kemampuan fisik, penderita stroke juga mengalami kemunduran kognitif.

Peringkat pertama
Di Indonesia, stroke merupakan penyebab utama kematian yang disebabkan penyakit non- infeksi. Temuan kasusnya terbilang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Menurut Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2008, prevalensi jumlah penderita stroke mencapai 8,3 per 1.000 populasi di Indonesia. Dengan jumlah populasi sekitar 211 juta jiwa, berarti terdapat sekitar 1,7 juta penderita stroke. Jumlah itu dari tahun ke tahun diperkirakan terus bertambah.
Seiring pertambahan usia, angka kejadian stroke terus bertambah. Setiap kali penambahan usia 10 tahun, dihitung dari masa usia 35 tahun, risiko stroke meningkat dua kali lipat. Sebanyak 5 persen orang Indonesia berusia di atas 65 tahun pernah mengalami setidaknya satu kali serangan stroke.

Menuju usia produktif
Widjaja Laksmi, dokter spesialis fisik dan rehabilitasi medik RSCM, mengatakan, jumlah penderita stroke yang lolos dari kematian semakin banyak berkat kemajuan teknologi di bidang kesehatan. Namun, mereka yang pernah terserang stroke lebih banyak meninggalkan gejala sisa yang berat.
”Pola makan tidak sehat, pola hidup yang penuh stres (tekanan), serta kurang olahraga akibat kesibukan menjadikan stroke bergeser ke usia produktif,” kata Widjaja. Untuk membantu pemulihan pasien stroke, 14 rumah sakit di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) membuka klub- klub stroke yang kemudian berada di bawah Himpunan Peduli Stroke.
Untuk menghindari serangan stroke, setiap individu hendaknya memperhatikan gaya hidup, selain memahami faktor risikonya masing-masing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.