Selasa, 15 Mei 2012

Cara para terapis sex sembuhkan pasiennya

Pada pernikahan, sering terjadi konflik yang membuat hubungan merenggang. Konflik ini tentu saja berakibat ke dalam kamar sehingga hubungan intim yang seharusnya menyenangkan menjadi terganggu. Pada kasus yang parah, seks bahkan harus jadi korban. Apabila ini terjadi, ada baiknya menemui terapis seks.

Karena seks adalah hal yang sangat pribadi, tidak banyak yang tahu apa saja yang terjadi di dalam ruang konsultasi terapis seks. Namanya yang terasa seronok mungkin membuat orang membayangkan hal yang berbeda-beda jika menyebut terapi seks. Pada dasarnya, terapi seks sama seperti terapi-terapi lain pada umumnya, namun fokus masalah yang ingin diselesaikan adalah ganguan seksual. Inti dari terapi seks adalah terapi bicara. “Kami tidak diizinkan menyentuh klien dan tidak pernah berpikiran untuk melakukannya. Tidak akan pernah ada seks yang terjadi di kantor seorang terapis seks,” kata Megan Andelloux, terapis seks di Rhode Island seperti dilansir WebMD, Selasa (15/5/2012). Menurut Andelloux, kebanyakan pasien yang datang ke kantornya disebabkan memiliki perbedaan gairah seksual, perubahan fungsi seksual, trauma akibat perkosaan hingga pria yang penasaran dengan fantasi seksualnya. “Kebanyakan klien saya mulai mencari bantuan untuk masalah hubungannya kepada terapi tradisional atau konselor perkawinan. Tapi terkadang profesional ini mungkin kurang mengetahui berbagai isu tentang seksualitas, jadi akhirnya merujuk ke terapis seks,” kata Andelloux. Berbagai macam terapi yang diberikan oleh terapis seks bervariasi sesuai dengan jenis kasus yang ditangani, jadi memang tidak ada jurus jitu yang paling ampuh untuk mengatasi semua keluhan pasien. Setelah mengidentifikasi sikap pasangan tentang seks dan masalah seksual yang dihadapi, terapis seks merekomendasikan latihan khusus untuk mengembalikan fokus perhatian dan harapan pasangan. Terapi seks sering menerapkan latihan yang disebut ‘fokus sensasi’ untuk mengobati masalah seksual. Latihan dimulai dengan menyentuh pasangan tanpa niat seksual dan mendorong kedua pasangan untuk mengungkapkan bagaimanakah kedua pasangan ingin disentuh. Tujuannya adalah membantu kedua pasangan memahami bagaimana mengenali dan mengkomunikasikan keinginannya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.