Jumat, 10 Juni 2011

Omega 3 Ikan Mengurangi Ancaman Sakit Jantung !

Masyarakat di perkotaan terbukti cenderung memiliki pola makan tinggi lemak jenuh tapi rendah lemak tak jenuh. Akibatnya risiko terkena Penyakit Jantung Koroner (PJK) menjadi tinggi. Mungkin sudah waktunya diserukan gerakan cinta ikan? Dari hasil survei Departemen Kesehatan RI terungkap bahwa prevalensi PJK di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat dan diikuti meningkatnya jumlah kematian.Sebelumnya prevalensi PJK menempati urutan ke-9 penyakit yang membahayakan serta menempati urutan ke-4 sebagai penyebab kematian. Tapi delapan tahun kemudian (tahun1980) prevalensi PJK menempati urutan ke-6, serta urutan ke-3 sebagai penyebab kematian. Bahkan sekarang (tahun 2000-an) sudah dapat dipastikan bahwa penyebab kematian terbesar di Indonesia bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit kardiovaskuler (antara lain PJK) dan degeneratif.

Pola Makan
Hasil survei dan analisa matang Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan kecenderungan tersebut bukan hanya akan terjadi di Indonesia atau di negara berkembang yang pembangunannya sangat pesat, tapi juga merupakan masalah serius hampir di semua negara. Hal ini antara lain disebabkan oleh meningkatnya taraf hidup dan sosial ekonomi, yang langsung atau tidak mengubah pola hidup dan terutama pola makan. Bahkan menurut WHO dan Departemen Kesehatan RI, saat ini mungkin hanya 50 persen pendudukIndonesia yang masih mengkonsumsi bahan makanan yang disebut basic four food group seperti buah-buahan, sayuran, padi-padian, daging berlemak rendah, kacang-kacangan dan sejenisnya. Sedang konsumsi bahan makanan refined food seperti antara lain yang lebih populer disebut fast food yang sangat kaya lemak, ternyata semakin meningkat jumlahnya. Perubahan pola hidup yang langsung dan tidaklangsung mengubah pola makan ini merupakan penyebab tingginya peningkatan risiko PJK. Kasus penyakit kardiovaskuler khususnya PJK, prevalensinya jauh lebih tinggi di masyarakat kota dibandingkan pedesaan. Perubahan ini sudah terasa sejak 20 tahun lalu Ancaman Obesitas Salah satu akibat pola hidup dan pola makan masyarakat perkotaan adalah obesitas atau kegemukan. Kegemukan tak terkendali merupakan akibat logis dari peningkatan sosial-ekonomi, apalagi kalau sebelumnya serba kekurangan. Memang, ada pula obesitas yang disebabkan oleh faktor lain seperti keturunan. Obesitas tak terkendali dapat dicontohkan sebagai berikut. Misalnya tinggi badan 160cm, menurut perhitungan berat maksimumnya hanya (160-100)x1 kg = 60kg. Namun karena tak terkendali oleh keadaan beratnya melambung menjadi 70 atau 80 kg, bahkan lebih.

Kelebihan berat 2 kg saja di bidang kesehatan akan banyak membawa dampak merugikan, apalagi jika kelebihan tersebut di atas 10 kg. Penderita obesitas mempunyai risiko tinggi penyakit kardiovaskuler. Tapi jangan lupa, mereka yang memiliki pola hidup santai, makan banyak, perokok berat dan tidak mau melakukan olahraga (minimaljalan kaki atau olahraga jantung sehat) mereka pun akan mudah terkena penyakit kardiovaskuler. Penyebabnya antara lain kandungan kolesterol meningkat tinggi. Akibat obesitas ditambah banyak merokok, apalagi menderita diabetes, akan mudah terserang aterosklerosis. Dari beberapa faktor risiko tinggi yang dapat menyebabkan seseorang terkena
PJK , maka pola hidup dan pola makan merupakan faktor risiko penentu. Mungkin sudah waktunya diserukan gerakan cinta ikan?

Omega 3 Tenggiri
Sudah sejak lama diakui para ahli gizi dan kesehatan bahwa pola hidup dan pola makan masyarakat di perkotaan cenderung mengandung lebih banyak lemak jenuh dan semakin kurang lemak tak jenuh. Ikan merupakan sumber alami asamlemak Omega 3 yaitu EPA dan DHA, yang berfungsi mencegah aterosklerosis (terutama EPA). Keduanya dapat menurunkan secara nyata kadar trigliserida di dalam darah dan menurunkan kadar kolesterol di dalam hati dan jantung. Kadar asam lemak Omega 3 dalam beberapa jenis ikan laut di perairan Indonesia berkisar antara 0,1 - 0,5 g/100 g daging ikan. Tentu saja ada beberapa jenis ikan lain di luar perairan Indonesia terutama yang hidup di kawasan temperata (bermusim dingin). Seperti ikan sardine dari Jepang memiliki kadar asam lemak Omega 3 sampai 31,174 g/100 g, sedangkan beberapa jenis ikan di perairan Thailand justru memiliki kadar rendah sekitar 0,084 g/ 200 g. Lingkungan tempat di mana ikan tersebut tumbuh dan berkembang, ternyata sangat berpengaruh terhadap kadar/ kandungan asam lemak Omega 3. Dari data yang telah dikeluarkan oleh Lembaga Gizi Departemen Kesehatan RI, beberapa jenis ikan laut Indonesia memiliki kandungan asam lemak Omega 3 tinggi (sampai 10,9 g/100 g) seperti ikan sidat, terubuk, tenggiri, kembung, layang, bawal, seren, slengseng, tuna dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.