Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Mei 2012

Sistem Pembelajaran di Amerika Serikat

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap.Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terang nya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

*** Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal. Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN
Bisakah kita mencetak orang orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

Jumat, 18 Mei 2012

Orang-orang Yang Akan Di Doakan Oleh Malaikat

  1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
  2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat
  3. Orang - orang yang berada di shaf barisan depan di
  4. Orang - orang yang menyambung shaf pada sholat
  5. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
  6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
  7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara berjama'ah.
  8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan
  9. Orang - orang yang berinfak
  10. Orang yang sedang makan sahur
  11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
  12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.

Bahaya Bicara Agama Tanpa Ilmu

Memahami ilmu agama merupakan perkara sangat penting bagi setiap muslim dan muslimah.
Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam bersabda : Menuntut ilmu ( Dien ) merupakan kewajiban ( Fardhu Ain’ ) atas setiap muslim.(Hadits Shahih, Ibnu Majah no. 224, dari Anas bin Malik).

Allah mencela kebodohan,
Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara kepada mereka dan Kami kumpulkan pula segala sesuatu di hadapan mereka niscaya mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (bodoh). (Al-An’am : 11)

Agama adalah apa yang telah dikatakan Allah dalam kitabNya Al-Qur’anul Karim dan sabda RasulNya dalam Sunnahnya. Oleh karena itu berbicara masalah agama tanpa ilmu dari Allah dan RasulNya termasuk kebodohan yang sangat berbahaya. Berbicara hanya berdasarkan akal, perasaan, dugaan, dan perkiraan, atau pendapat pribadi semata (hawa nafsu) dapat sesat dan menyesatkan orang lain, beberapa bahaya berbicara masalah agama tanpa ilmu :

Hal ini merupakan perkara tertinggi yang diharamkan oleh Allah.
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui (berbicara tanpa ilmu)." (Al-A’raf:33)
Imam Ibnul Qayyim ( beliau adalah murid dari Ibn Taimiyah ) meenjelaskan, Allah mengurutkan perkara-perkara yang diharamkan menjadi empat tingkatan. Dia memulai dari yang terendah yaitu perbuatan-perbuatan keji, kemudian dosa dan kezhaliman, kemudian menyekutukan  Allah (syirik), kemudian yang paling besar keharamannya yaitu berbicara tentang Allah tanpa ilmu. Hal itu meliputi berbicara tentang Allah tanpa ilmu di dalam nama-namaNya, sifat-sifatNya, perbuatan-perbuatanNya dan di dalam agamaNya dan syari’atNya.
Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata : “Berbicara tentang Allah tanpa ilmu termasuk perkara besar yang diharamkan oleh Allah, bahkan hal itu disebutkan lebih tinggi dari perbuatan syirik . Karena di dalam ayat tersebut Allah mengurutkan perkara-perkara yang diharamkan mulai dari terendah sampai yang paling tinggi.

Berbicara tentang Allah tanpa ilmu merupakan salah satu bentuk dusta atas nama Allah, yang merupakan kezhaliman terbesar.
“Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan ?" Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. (Al-An’am:144)

Berbicara tentang Allah tanpa ilmu merupakan kesesatan dan menyesatkan orang lain.
Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam bersabda : Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hamba-hambaNya sekaligus, tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang alimpun , orang-orangpun mengangkat pemimpin-peminpin yang bodoh. Lalu para pemimpin itu ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan orang lain. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari no. 100).

Berbicara tentang Allah tanpa ilmu merupakan sikat mengikuti hawa nafsu.
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun (Al-Qashshash:50)

Berbicara tentang Allah tanpa ilmu merupakan sikap mendahului Allah dan RasulNya.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(Al-Hujuraat:1).

Orang yang berbicara tentang Allah tanpa ilmu menanggung dosa-dosa orang-orang yang disesatkan.
Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam bersabda : Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa sebagaimana dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa mereka sedikitpun. (Hadits Shahih Muslim no. 2674, dari Abu Hurairah).

Berbicara tentang Allah tanpa ilmu akan dimintai tanggung jawab.
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak meempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. (Al-Isra’:36).
Diantara hukum yang dapat dikeluarkan dari ayat yang mulia ini ialah :
  • Larangan menetapkan sesuatu, baik dengan perkataan atau perbuatan tanpa ilmu.
  • Ilmu terlebih dahulu sebalum berkata dan berbuat.
  • Islam mendasari segala sesuatu dengan ilmu.

Orang yang berbicara tentang Allah tanpa Ilmu termasuk tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan.
Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Al-Maa-idah:44)
Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (Al-Maa-idah:45)
Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (Al-Maa-idah:45).

Sabtu, 28 April 2012

Dinosaurus Brain

Mengapa perilaku kepemimpinan nasional kita tidak menunjukkan keprofesionalan selaku penyelenggara negara. Contoh ketidakprofesionalan penyelenggara negra itu antara lain terimplementasi dalam pembukaan KTT G-15 (Keprotokolan dan Tatakrama Pergaulan Internasional, yang tercantum dalam UU No. 8 Tahun 1987 tentang Keprotokolan dan PP No. 62 Tahun 2000 tentang Tata Penghormatan, Tata Tempat dan Tata Upacara), pengangkatan Kapolri (Keppres yang baru bertentangan dengan Keppres yang sebelumnya). Pemberhentian pejabat PNS versi Kabinet I/99 (likuidasi 6 instansi) tanpa prosedur hukum yang sahih. Perilaku kepemimpinan nasional yang kontroversal ini membuat rakyat bingung, apalagi juru bicara Presiden dan Wapres beserta para pengikutnya masing-masing senantiasa menyampaikan informasi yang saling dapat dipertentangkan, bahkan jika dibantah sangat mudah disetip atau di tip-ex. Itu baru sebagai contoh konkrit yang dapat diamati dan dirasakan rakyat. Mudah-mudahan segenap komponen pemimpin bangsa tidak memiliki kelakuan seperti yang dilansir oleh LPPSDM Jakarta, yang dengan diinspirasi oleh Albert Bernstein dalam karyanya : “DINOSAURUS BRAIN” 1989 ; merumuskan sifat-sifat negatif sbb :

“Suka bertingkah aneh-aneh, tidak wajar, lucu dan menggelikan. Kemauannya tidak jelas, sulit untuk dimengerti orang. Suka mengancam, menakut-nakuti dan menggertak orang. Sering marah-marah dan mengamuk tanpa ada sebab yang jelas.”

“Suka mengejek, merendahkan orang lain. Bahkan kalau menghukum orang merasa bangga dan merasa diri hebat. Tidak mau mainannya diganggu. Teritorialnya tidak boleh dimasuki orang.”

“Egois, mau menang sendiri, kurang memiliki rasa toleransi. Sok disiplin, sok peraturan, tidak ada keluwesan sama sekali. Suka cekcok dan berantem dengan sesama “SPECIES”. Tega menekan dan memeras sesama ‘bangsa”.

“Tidak peka pada perasaan orang lain, sulit diberitahu, …ndableg…Merasa paling kuat, paling besar dan paling berkuasa tetapi kalau kalah cepat lari. Anggap enteng orang, tidak menghargai sesamanya”.

“Merasa paling berjasa, sok pahlawan, sok penting, suka pamer, suka ngambeg, murung, bersikap masa bodo dan tidak bertanggung jawab. Berani hanya di kandang sendiri (jago kandang). Badan segede gunung, nyali cuma sekecil kacang ijo. Amit-amit deh”. Sumber inspirasi : Albert Bernstein : “DINOSAURUS BRAIN”, 1989.

Maksud LPPSDM Jakarta melansir Dinosaurus Brain, Karya Albert Bernstein di atas bukanlah untuk menyindir para pemimpin, namun diarahkan sebagai bahan kajian para manajer muda, agar mau dan mampu merubah perilaku pribadi mereka menjadi perilaku kelompok. Karena sangat disadari kepemimpinan masa depan bukanlah kepemimpinan pribadi/individual, melainkan kepemimpinan antar pribadi, kepemimpinan kolektif, kepemimpinan multi budaya dan bahkan Rosabeth Moss Kanter menyebutnya sebagai : Pemimpin Kosmopolitan (The Drucker Foundation : The Leader of The Future ; 1997, Hal 89). James F. Bolt menyebutnya : Pemimpin Tiga Dimensional (hal : 161).

Ciri-ciri Pemimpin Berkarakter

Aktualisasi karakter kepemimpinan yang diharapkan bangsa dan negara  adalah yang mampu mengantarkan anak bangsa dari ketergantungan (dependency) menuju kemerdekaan ( independency ), selanjutnya menuju kontinum maturasi diri yang komplit ke saling tergantungan 
(interdependency), memerlukan pembiasaan melalui contoh keteladanan perilaku para elite politik yang bergerak di eksekutif, yudikatif dan legislatif dalam taman sari demokrasi yang kondusif. Habitat yang dapat dijadikan persemaian karakter pemimpin itu antara lain harus dapat menumbuh suburkan dan mengembangkan perilaku dan sifat-sifat seperti :
  1. Kesadaran diri sendiri (self awareness) jujur terhadap diri sendiri dan terhadap oranglain, jujur terhadap kekuatan diri, kelemahan dan usaha yang tulus untuk memperbaikinya.
  2. Dasarnya seseorang pemimpin cenderung memperlakukan orang lain dalam organisasi atas dasar persamaan derajad, tanpa harus menjilat keatas menyikut kesamping dan menindas ke bawah. Diingatkan oleh Deepak Sethi agar pemimpin berempati terhadap bawahannya secara tulus.
  3. Memiliki rasa ingin tahu dan dapat didekati sehingga orang lain merasa aman dalam menyampaikan umpan balik dan gagasan-gagasan baru secara jujur, lugas dan penuh rasa hormat kepada pemimpinnya.
  4. Bersikap transparan dan mampu menghormati pesaing ( lawan politik ) atau musuh, dan belajar dari mereka dalam situasi kepemimpinan ataupun kondisi bisnis pada umumnya.
  5. Memiliki kecerdasan, cermat dan tangguh sehingga mampu bekerja secara professional keilmuan dalam jabatannya. Hasil pekerjaanya berguna bagi dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
  6. Memiliki rasa kehormatan diri ( a sense of personal honour and personal dignity ) dan berdisiplin pribadi, sehingga mampu dan mempunyai rasa tanggungjawab pribadi atas perilaku pribadinya. Tidak seperti saat ini para pemimpin saling lempar ucapan pedas terhadap rekan sejawatnya yang berbeda aliran politiknya.
  7. Memiliki kemampuan berkomunikasi, semangat “ team work “, kreatif, percaya diri, inovatif dan mobilitas. 


Rabu, 07 Maret 2012

Tuntutan Akan Etika dan Tolak Ukur Etika

Tuntutan akan etika dan tolok ukur etika meningkat, disebabkan oleh :
  1. Pengungkapan etika pada publik, pengumuman dan media massa (pengaruh terbesar, menurut suatu survei).
  2. Kepedulian publik meningkat, kewaspadaan publik meningkat, kesadaran publik meningkat, tekanan sosial baik dalam maupun luar negeri (pengaruh besar).
  3. Regulasi pemerintah, intervensi pemerintah dan tuntutan pengadilan akan malpraktek (pengaruh sedang).
  4. Jumlah dan mutu manajer profesional dan terdidik meningkat.
  5. Pengharapan baru akan suatu peran sosial suatu profesi.
  6. Kesadaran dunia usaha dan para CEO akan etika bisnis meningkat (pengaruh besar)
Tuntutan akan etika dan tolok ukur etika menurun, disebabkan oleh :
  1. Kerusakan sosial, masyarakat yang longgar, materialisme dan hedonisme meningkat, hilangnya atau menurunnya pengaruh agama, kebutuhan akan kecepatan dan kuantitas, bukan kualitas.
  2. Persaingan bertambah berat, gaya hidup, stress merebut sukses.
  3. Korupsi, hilangnya kepercayaan dan rasa hormat pada pemerintah, etika sebagai sarana politik. 
  4. Penetahuan akan tindakan non etikal meningkat dan menjadi terbiassa, oleh media massa. Media massa menjadi penyebab meningkatnya kejahatan.
  5. Haus harta, sukses diukur dengan materi, egoisme dan individualisme.
  6. Tekanan laba dari investor & penyandang dana, harus bertahan untuk tetap hidup.

Etika Jati Diri

Pada etika pengingkaran diri, subyek ingin menyatu dengan etika (disebut pula etika karakter). Kualitas utama, tatkala etika menyatu dalam jati diri. Contoh : terlambat ? itu bukan aku. Menerima pekerjaan itu ? itu bukan aku. Tak ada persoalan survival, pertimbangan sosial-ekonomi dan rasa takut. Yang  ada adalah pengingkaran diri. Subyek adalah (pengejawantahan) etika. Tahap ini mirip dengan tahap 6 Kohlberg, jarang tercapai. Pengaturan penampakan etika mirip pekerjaan memangkas daun pohon (penampakan penyimpangan etika, syatar, fatsoen), agar sebuah pohon cemara (hakekat, jati diri, etika dalam) tampak sebagai pohon kelapa (dari kejauhan).
Kebanyakan profesi mengatur dan mengawasi sebatas etika penampakan. Beberapa pemikir menyatakan cara di atas tak seberapa keliru. Pembentukan ciri luar berulang-ulang dalam jangka panjang, akan mengubah kebiasaan, kebiasaan mengubah karakter, karakter akan mengubah hakekat jati diri mereka yang bertahan tinggal untuk dipangkas. Etika penampakan harus powerful, agar tak diremehkan. Siapa menubruk etika, ia akan patah. Karena itu, etika profesi bersanksi.
Kebiasaan adalah medan grafitasi yang kuat. Suatu upaya yang beretika (tinggal landas dari medan grafitasi) disedot oleh daya grafitasi, dan jatuh berantakan (crash).   Tebal tipis moral, nilai yang dianut, kepekaan naluri dan tingkat daya pikir. Tingkat kesadaran beretika artinya, pada setiap langkah kegiatan profesional secara otomatis memasukkan unsur pertimbangan etika. 
 
Elemen etika yang amat abstrak itu harus diidentifikasi satu persatu dalam bentuk pelatihan profesi, agar dapat dikenali di dunia praktik. Masalah lain adalah manipulasi nilai spiritual sebagai alat sukses dan menguntungkan, sebagai trademark, bukan sebagai tujuan. Hal ini dapat terjadi pada jenis kegiatan berlandas etik, seperti dalam manajemen universitas, koperasi dan rumah sakit.
Norma agama menimbulkan rasa takut kepada Tuhan Yang Maha Esa (sanksi oleh Tuhan, rasa berdosa), rasa takut ketahuan oleh sesama pemeluk agama (rasa tak tentram, sanksi oleh sesama manusia).   Apabila hanya takut ketahuan sesama pemeluk agama, maka norma agama menjadi prosedur formalitas.
 
Norma agama dapat dijalin dengan etika profesi, misalnya dengan sumpah dokter, sumpah jabatan sesuai agama masing-masing. Norma etik, norma budi pekerti, norma kesusilaan, melarang perbuatan tercela yang merugikan anggota atau non anggota. Batasan dengan norma agama, amat tipis. Pada Buku lain disebut moral, ahlak, budi pekerti baik, kemampuan memisahkan yang baik dan buruk, tak nampak, tak dapat diawasi  manusia.
Norma fatsoen atau sopan santun, terkait pada adat istiadat. Pelanggaran menyebabkan pengucilan, pelecehan, penghinaan atau teguran terang-terangan, perilaku tak bersahabat, bahkan mungkin denda adat. Hukuman dapat dijatuhkan pada seluruh anggota keluarga pelanggar.

Etika Kepribadian

Kelompok pertama adalah etika kepribadian, form over substance, etika sandiwara atau hipokrisi, etiket. Kualitas etika boleh pilih, tatkala secara aman kita kuat dari etika, kita patahkan etika. Etika berwawasan ekonomi, kepatuhan minimum, kepatuhan tatkala menguntungkan. Didalamnya termaktub rasa khawatir ketahuan dan hukuman antar manusia. Contoh : dalam perjanjian bertemu dengan orang penting, harus tepat waktu, agar mendapat citra disiplin, takut sanksi.
Seseorang terpaksa beretika dan harus tampak beretika, adalah hipokrisi, bahkan dapat menjurus pada psikopat ; jiwa pecah dan bersandiwara secara sempurna sepanjang hari.
Etika berwawasan ekonomi, menggunakan hukum ekonomi etika bertaraf hipotesa
  • Laba pasti dan segera vs manfaat jangka panjang etika yang tak pasti.
  • Setiap mahluk ekonomi digerakkan oleh kepentingan pribadi, diatas kepantingan kelompok
  • Etika bagus adalah bisnis bagus atau sebaliknya survival vs ethics.
  • Bahwa yang bermaksud tinggal-lama-purna waktu dalam profesi lebih memperhatikan etika dibanding yang sebaliknya.
Pilihan (maslahat ekonomi dan non ekonomi) bersama suatu profesi, tekad bulat semua profesi  atau pilihan pemerintah (maslahat profesi sebagai sokoguru negara kuat) berdasar hipotesa etika atau mati (ethics or die), dapat mencipta political will.
Contoh etika untung rugi, adalah sebagai berikut : 
  1. Perusahaan memperhatikan dan memenuhi kebutuhan karyawan. Hasil yang diharap adalah kesetiaan meningkat, produktivitas meningkat, laba meningkat. 
  2. Pemasok menolak menaikan harga pada saat barang langka dan saat sellers’market, karena ingin hubungan baik terus dijaga saat buyers’market. 
  3. Karena menolak pekerjaan atau biaya marketing kurang etikal (misalnya memperoleh pekerjaan profesi dengan menyuap pengambil keputusan), maka pekerjaan lepas. Lahan kerja sempit, rasionalisasi karyawan merupakan tindakan kurang etis. Teori relativitas etika ini mengajukan pilihan etika kompromistis. Seperti pada hukum ; deteksi etika, ganjaran atau hukuman terkait penampan perilaku (gejala etika).

Etika Dalam Dunia Modern

Situasi modern mengajak kita untuk memperdalam studi etika , hal ini merupakan salah satu cara yang memberi prospek untuk mengatasi kesulitan moral yang kita hadapi. Krisis dimasyarakat diantaranya disebabkan tidak adanya pola-pola moral yang tradisional tidak lagi memiliki dasar untuk berpijak, akibat banyaknya perubahan sosial dan religius.

Moral dan agama : hampir semua tindakan perbuatan yang dilarang dimasyarakat dasarkan pada agama , setiap agama mengandung ajaran moral yang menjadi pegangan bagi penganutnya . Hal ini penting , karena agama dari Allah/Tuhan , maka ajarannya merupakan kehendak Allah/Tuhan.

Moral dan Hukum : Tidak ada undang-undang , jika tidak disertai moralitas. Tanpa moralitas hukum akan kosong. Moral akan mengawang-ngawang saja jika tidak diungkapkan dan dilembagakan dalam masyarakat, seperti terjadi dengan hukum. Sangsi hukum didasarkan oleh sangsi moralitas. Hukum atas kehendak masyarakat dan akhirnya kehendak negara.

Hati nurani sebagai fenomena moral   “Hati nurani” = “hati yang diterangi”. Setiap manusia mempunyai pengalaman yang merupakan penjelmaan dengan moralitas sebagai kenyataan. Dengan hati nurani kita maksudkan penghayatan tentang baik atau buruk berhubungan dengan tingkah laku konkret kita. Hati nurani dapat dikelompokan ; menjadi hati nurani retrospektif dan hati nurani  prospektif.
  1. Hati nurani retrospektif , memberikan penilaian tentang perbuatan-perbuatan yang telah berlangsung dimasa lampau.
  2. Hati nurani prospektif, melihat masa depan dan menilai perbuatan-perbuatan kita yang akan datang, mengandung semacam ramalan. Hari nurani prospektif akan menghukum  hati nurani restrospektif jika kenyataan yang terjadi tidak sesuai.
Hati nurani yang dilanggar akan menghukum kita jika kita melakukan perbuatan tersebut. Hati nurani  bersifat personal dan global.

Perkembangan moral ( menurut Kohlberg)
1) Tingkat Prakonvensional, meliputi : Orientasi hukuman dan kepatuhan Orientasi relatives intrumental Perhatian khusus untuk akibat perbuatan ; hukum , ganjaran, motif-motif lahiriyah dan partikular. Perasaan : Takut untuk akibat-akibat negatif dari perbuatan.

2) Tingkat Konvensional, meliputi : Penyesuaian dengan kelompok atau orientasi menjadi “orang baik” Orientasi hukum dan ketertiban (law and order).
Perhatian untuk maksud perbuatan, memenuhi harapan , mempertahankan , ketertiban Perasaan : Rasa bersalah terhadap  orang lain bila tidak mengikuti tuntutan-tututan lahiriyah.

3) Tingkat Pascakonvensional , Orientasi kontrak sosial legalistis Orientasi prinsip etika yang universal Hidup moral tanggung jawab pribadi atas dasar prinsip-prinsip, hatinurani pribadi.      Perasaan :Penyesalan atau penghukuman dari karena tidak mengikuti pengertian moralnya sendiri.

Budaya Malu dan budaya kebersalahan (Shame culture and Guilt culture )
Budaya malu (shame culture), ditekankan pada pengertian-pengertian :” hormat”,”reputasi”,” nama baik “, “status”, dan”gengsi”. Sangsi datang dari luar , yaitu apa yang dipikirkan atau dikatakan orang lain.
Budaya kebersalahan (guilt culture), ditekankan pada pengertian :”dosa”, “kebersamaan”, Sangsi datang dari diri/ batin sendiri, hati nurani merupakan hal yang sangat penting.

Kebebasan dan tanggung Jawab
Kebebasan, artinya : Orang telepas dari paksaan, tidak dirampas hak-haknya, lepas dari tekanan batin /psikis , dan keterasingan.
Kebebasan ditentukan oleh : Pengalaman tentang kebebasan Kebebasan yang didasarkan pada hukum kodrat dan hukum positif Kebebasan psikologis Kebebasan moral Kebebasan ekstensial; kebebasan terhadap seluruh eksistensi manusia.
Batas kebebasan :
  • Faktor – faktor dari dalam Lingkungan
  • Kebebasan orang lain
  • Generasi mendatang

Selasa, 07 Februari 2012

Memotivasi Diri Melalui Rasa Percaya Diri

Aset paling berharga bagi banyak orang adalah juga aset yang paling belakangan dihargai. Aset itu, bila ditangani dengan semestinya, akan mampu memberikan hasil secara dramatis. Aset yang tidak dapat dikenakan harga setinggi apapun. Itulah otak manusia, pikiran dan proses berfikir.

Otak merupakan kawasan penyimpanan yang kapasitasnya luar biasa, menjadi pentinglah untuk berhati-hati di dalam mengisinya. Sebagian orang mempunyai otak yang penuh dengan pemikiran dan pengalaman negatif. Mereka akan secara terus-menerus menanamkan masukan saya tidak mampu dengan setumpuk alasan mengapa mereka tidak mampu. Sehingga ketika dihadapkan pada sebuah kesempatan atau tantangan baru, otak mereka, ketika ditanya, mengirimkan jawaban: Tidak, kamu tidak mampu, atau tanggapan lain semacam itu.

Lima langkah yang diperlukan untuk membangun kepercayaan diri dan yang pada gilirannya membangun rasa percaya diri bagi motivasi diri dari dalam.

Hindari Mencari-Cari Alasan
Begitu banyak orang mengurungkan niat mereka dengan mengajukan alasan yang tidak masuk akal dan samasekali salah. Seperti:
- Saya tidak bisa
- Saya tidak mampu sebab...
- Pendidikan saya belum memadai
- Saya sudah terlalu tua
- Saya masih terlalu muda, dll
Siapapun dapat mencari alasan bagi hampir segalanya, maka dalam membangun kepercayaan diri, jangan sekali-kali membuat alasan. Hal itu mungkin sangat menyenangkan dan menentramkan hati, tetapi alasan-alasan hanya akan menghamabat seseoarang dari pencapaian sasaran. Ingatlah bahwa otak Anda adalah kawasan penyimpanan apa yang Anda masukkan pada gilirannya akan keluar lagi, jadi gantilah penyisipan hal-hal negatif dengan hal-hal positif.

Gunakan Daya Imajinasi
Otak dengan kapasitasnya yang tidak terbatas dapat membantu Anda dengan tanpa batasan mencapai ambisi hidup jika Anda memberinya kesempatan. Biarkan dia menggambarkan diri Anda sebagai pribadi yang Anda inginkan. Dengan jelas menggambarkan apapun wujud yang Anda inginkan. Semakin Anda memikirkan itu semua semakin besar kepastian akan suatu hasil yang positif.
Jika Anda terus menerus membiarkan pikiran Anda dipenuhi dengan bermacam-macam pemikiran mengenai penyakit dan kesehatan yang buruk, Anda hampir pasti akan mengalami penyakit yang Anda pikirkan. JIka Anda terus menerus memikirkan hasil negatif tentang pergaulan atau karier bisnis, pemikiran itu pada gilirannya akan mengakar dalam diri Anda.
Maka dalam proses membangun kepercayaan diri dengan menmggunakan proses kesan daya imajinasi otak, pentinglah untuk menjadi yakin bahwa apa yang sedang Anda pikirkan dan lihat dengan jelas adalah hal yang positif. Hal yang positif itu harus memungkinkan kesan positif pada diri Anda dan peningkatannya, serta pemikiran positif itu harus mengarah ke sasaran Anda, cita-cita dan kebahagiaan dalam hidup.

Jangan Takut Gagal
Kegagalan telah mengahalangi begitu banyak orang sehingga mereka mundur sebelum mencoba, berbuat atau meraih keberhasilan sebab mereka tidak mampu menerima terminologi dimana ada kemungkinan untuk gagal. Sebagian orang benar-benar tidak pernah mencoba sesuatupun sebab rasa takut gagal ini telah menguasai otak mereka selama bertahun-tahun. Setiap hari mereka memikirkan kegagalan ini sehingga mereka tidak pernah sungguh-sungguh melakukan sesuatu dan pada akhirnya mereka tidak percaya diri dan penuh keraguan.

Penampilan Membentuk Kepercayaan DiriPenampilan luar memang bukan segalanya. Kadang-kadang perlu untuk membelanjakan uang demi penampilan luar yang menarik, karena dengan penampilan luar yang menarik memberi kesempatan yang ada dalam diri Anda untuk merasa baik. Tetapi haruslah tetap bersikap realistis. Sebagian orang bersikap berlebihan dalam penampilan mereka dan pada akhirnya semua itu hanya demi kepuasan ego mereka.

Susunlah Catatan Mengenai Sukses Yang Diperoleh
Setiap orang pernah mencapai sukses dalam hidupnya. Cara mengumpulkan catatan sukses masa lalu sangat sederhana. Pikirkan balik sukses Anda yang paling awal yang mungkin terjadi pada masa sekolah ketika memenangkan lomba balap kelereng atau balap karung. Mungkin juga berawal dari ucapan selamat ketika memenangkan lomba mengambar atau melukis. Ini bisa dulakukan secara lisan pada suatu audio kaset atau buku catatan. Anda bisa melihat kembali catatan dan memperbaharui aset paling berharga Anda dengan kenangan akan sukses tersebut.

Motivasi hanya dapat mengabadikan diri berdasarkan harapan. Untuk memotivasi diri, seseorang harus memiliki harapan tentang sebuah masa depan. Oleh karena itu dalam memotivasi diri seseorang bertanggung jawab untuk menciptakan sendiri harapannya.

Sabtu, 05 November 2011

Alternatif Sumber Daya Manusia Untuk Industri

"Lulusan perguruan tinggi tidak siap pakai!" begitu komentar klasik terhadap sarjana lulusan perguruan tinggi di Indonesia. Tentunya ada argumen lain dari pihak perguruan tinggi, misalnya "Perguruan tinggi bertugas untuk menelurkan pemikir / perencana bukan sekedar tukang; polyteknik yang menelurkan tukang". Akibatnya apa? industri / perusahaan mau tidak mau harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendidik para sarjana agar "siap pakai". Syukur-syukur kalau pekerjaan yang dilakukan para sarjana ini sesuai dengan bidang yang ditekuni di perguruan tinggi. Yang disayangkan (dan sudah menjadi rahasia umum), banyak sarjana yang terpaksa "melacur" dan mengambil pekerjaan yang berbeda dengan apa yang dipelajari diperguruan tinggi (contohnya: customer service). Tentunya sudah banyak usaha untuk mengatasi hal ini misalnya dengan mendirikan Pusat Antar Universitas (PAU) dan lembaga-lembaga penelitian yang diharapkan dapat bekerjasama dengan industri dan secara tidak langsung menelurkan sarjana-sarjana yang siap pakai selain meningkatkan mutu pendidikan tinggi. Kerjasama ini tampaknya sudah mulai berjalan walaupun disana sini kebanyakan tersendat-sendat.

Pada kesempatan ini, saya mencoba mengupas kemungkinan pendayagunaan lebih lanjut pra-sarana dan lembaga-lembaga di perguruan tinggi terutama untuk meningkatkan bargaining position perguruan tinggi terhadap industri. Mudah-mudahan hal ini bisa memperlancar kerjasama yang tersendat-sendat tadi. Hal ini penting, terutama untuk menarik dana dari industri untuk penelitian di perguruan tinggi yang secara langsung akan meningkatkan mutu perguruan tinggi dan lulusannya. Jadi semacam simbiosa mutualisma - industri senang memperoleh sarjana yang baik dan lebih siap pakai beserta hasil penelitiannya; perguruan tinggi juga senang memperoleh dana untuk memperbaiki mutu pendidikan maupun kesempatan untuk meneliti.

Mengapa peningkatan bargaining position ini penting? Bayangkan jika seorang dosen / peneliti diperguruan tinggi yang ingin berdedikasi (tidak ingin ngobyek) bermaksud mengadakan penelitian untuk mengembangkan ilmunya. Mengharapkan uang penelitian dari DIP? barangkali harus menunggu sampai 2-3 tahun sebelum dana turun; belum lagi terkadang harus melalui proses tender yang bertele-tele. Itupun dana yang diperoleh tidak seberapa. Akhirnya sang dosen menengok kepada Industri dengan harapan bisa memperoleh dana yang lebih baik. Apakah industri akan dengan senang hati memberikan dana? bagaimana industri bisa menjustifikasi bahwa proposal yang diajukan memang bisa dilaksanakan? apakah memungkinkan untuk memproduksi dan memasarkan ide sang dosen ini? apakah sang dosen cukup berkualifikasi dan berpengalaman? dan yang terpenting apakah industri diuntungkan dengan ide sang dosen / peneliti ini? begitu sebagian pertanyaan yang mungkin terlintas dibenak para manager di perusahaan-perusahaan. Jelas bahwa saat ini bargaining position dosen perguruan tinggi sangat lemah, apalagi sebagai pihak yang membutuhkan dana.

Apakah inti permasalahan diatas? sebetulnya sederhana, semua berkisar pada masalah pertukaran informasi antara perguruan tinggi dan industri. Sebagai contoh, berapa banyak industri elektronika dan pabrik perakitan komputer mikro yang tahu bahwa beberapa dosen di perguruan tinggi di Indonesia mampu membuat sendiri transistor, chip (IC), perangkat lunak untuk komputer dan bahkan sempat berkomunikasi lewat komputer dengan Indonesia selama belajar di luar negeri? tanpa ada usaha untuk menerangkan dari para dosen ini, saya yakin tidak banyak industri yang tahu tentang kemampuan yang terkandung dalam perguruan tinggi. Dilain pihak, berapa banyak dosen yang tahu persis kemampuan dan kebutuhan industri di Indonesia? Hal yang sama berlaku untuk industri. Jelas disini, proses pertukaran informasi antara industri dan perguruan merupakan inti untuk mengetahui kekuatan yang ada dikedua belah pihak dan akhirnya akan menaikan bargaining position dari perguruan tinggi.

Dengan semakin berkembangnya komputer, teknologi informasi elektronik komputer akan sangat memperlancar proses pertukaran informasi. Proses ini jauh lebih cepat dan sangat effisien dibandingkan media konvensional lainnya, seperti surat kabar, majalah, seminar, konferensi, fax, telepon dll. Apakah jaringan komputer telah berkembang di Indonesia? YA! beberapa perusahaan yang cukup besar seperti USI/IBM, Schlumberger dan Astra Graphia telah menyambungkan komputernya dengan jaringan komputer internasional. Saya di Canada sering berhubungan dengan teman-teman di perusahaan tersebut melalui komputer.

Bagaimana dengan dunia perguruan tinggi dan lembaga penelitian? PUSILKOM-UI telah beberapa lama berusaha mengembangkan jaringan komputer. Sayangnya tarif telepon interlokal dan SKDP relatif cukup mahal untuk perguruan tinggi negeri, akhirnya jaringan komputer ini tersendat-sendat. Mungkinkah ini salah satu contoh lemahnya bargaining position perguruan tinggi terhadap industri? Dengan adanya banyak SBK di perguruan tinggi, seperti ITB, ITS, IPB dan Universitas Indonesia Timur, alangkah bermanfa'atnya jika bisa dialokasikan 1-2% dari kapasitas sebuah transponder PALAPA untuk keperluan jaringan komputer untuk penelitian dan pendidikan di Indonesia. Bukankah salah satu misi PALAPA adalah untuk membantu dunia pendidikan? Alternatif lain (menggunakan radio), tengah digalakkan oleh ITB dengan dimotori oleh Prof. Dr. Iskandar Alisyahbana, Dr. Nasserie dan Dr. Kusmayanto Kadiman. Bahkan Prof. Alisyahbana telah berhasil memasang sebuah stasiun bumi sederhana untuk masuk ke satelit internasional komunikasi komputer radio yang memungkinkan hubungan internasional tanpa melalui SKDP. Hal ini memungkinkan pembentukan jaringan komputer biaya murah tanpa perlu bergantung sepenuhnya pada telepon.

Jelas dari penjelasan di atas bahwa infra-struktur jaringan komputer dikedua belah pihak baik industri maupun perguruan tinggi telah mulai berkembang. Tinggal bagaimana menghubungkan jaringan-jaringan komputer yang ada menjadi satu kesatuan agar diperoleh manfa'at bagi kedua belah pihak. Secara teknis sebetulnya sangat mudah. Masalah terberat adalah birokrasi dan masalah administratif dari kedua belah pihak.

Mari kita renungkan bersama, apa yang akan kita peroleh dengan menyatukan infra-struktur informasi di perguruan tinggi dan industri. Bayangkan, waktu untuk menyiapkan seorang sarjana "siap pakai" di industri menjadi lebih singkat. Di samping itu, industri memperoleh masukan alternatif solusi / rancang bangun dari hasil penelitian di perguruan tinggi untuk produksinya. Bahkan, dapat diharapkan akan terjadi perbaikan mutu barang / jasa yang dipasarkan. Dilain pihak, mutu pendidikan tinggi menjadi naik dengan adanya masukan dana tambahan dari industri. Di samping itu, ilmu pengetahuan dan pengalaman dosen dalam meneliti akan meningkat. Hal ini sangat bermanfa'at untuk memperkaya pengetahuan para mahasiswa di perguruan tinggi. Hal lain yang akan sangat positif, perguruan tinggi akan dipaksa untuk memacu diri dalam membentuk dan membenahi jenjang pendidikan S2 dan S3 untuk menyediakan tenaga peneliti di perguruan tinggi yang secara langsung akan meningkatkan ilmu pengetahuan dan mutu pendidikan tinggi di Indonesia. Akhirnya, perguruan tinggi dan industri menjadi saling mengetahui akan kebutuhan, kemampuan maupun kekuatan yang ada di samping kemungkinan untuk bertukar informasi dan pengalaman.

Hal lain yang terpenting, dengan adanya jaringan komputer, seluruh jaringan birokrasi dan administratif yang sangat menghambat pekerjaan dapat dengan mudah dihilangkan / dilewati. Tidak perlu lagi kita membuang waktu menunggu di ruang tunggu hanya untuk meminta tanda tangan / bertemu dengan seorang kepala biro. Jejang administratif secara tidak sadar dapat dipersempit, contohnya, seorang dosen muda di perguruan tinggi dapat langsung berhubungan dengan direktur perusahaan tanpa menanti di ruang tunggu serta berhadapan dengan berbagai prosedur administratif melalui berlapis sekertaris. Tidak perlu lagi bersusah payah mengumpulkan seluruh staf ahli / peneliti hanya untuk rapat bulanan. Rapat dapat dilakukan tanpa perlu bertatap muka setiap hari bahkan setiap menit melalui surat elektronis. Jelas bahwa waktu untuk pemroses suatu pekerjaan dapat sangat dipersingkat.

Bukan mustahil dengan terbentuknya jaringan komputer ini, kita akan melihat sebuah revolusi informasi, industri dan ilmu pengetahuan di Indonesia. Memang untuk merealisasi semua ini dibutuhkan kerja keras (terutama membenahi masalah birokrasi dan administratisi) dari pihak industri maupun perguruan tinggi. Tapi saya pribadi yakin bahwa semua ini bukan hal yang mustahil melihat potensi yang terkandung di perguruan tinggi maupun industri, apalagi jika didasari dengan keinginan dan niat baik dari berbagai pihak yang terkait. Bukan hanya perguruan tinggi dan industri yang akan memperoleh keuntungan oleh sistem ini, tapi juga seluruh rakyat Indonesia.

Rabu, 17 Agustus 2011

Etika dan Keamanan dalam Sistem Informasi

Masalah etika juga mendapat perhatian dalam pengembangan dan pemakaian sistem informasi.
Masalah ini diidentifikasikan oleh Richard Mason pada tahun 1986 yang didalamnya mencakup masalah : privasi, akurasi, properti, dan akses.

Privasi
Privasi menyangkut hak individu untuk mempertahankan informasi pribadi dari pengaksesan oleh orang lain yang memang tidak diberi ijin untuk melakukannya.
Privasi dibedakan menjadi :
  1. Privasi Fisik : hak seseorang  untuk mencegah seseorang yang tidak dikehendaki  terhadap waktu, ruang, dan hak milik
  2. Privasi informasi : hak individu untuk menentukan kapan, bagaimana, dan apa saja informasi pribadi yang ingin dikomunikasikan dengan pihak lain
Akurasi
Akurasi  terhadap  informasi merupakan faktor yang harus dipenuhi oleh sebuah sistem informasi. Ketidak akurasian informasi dapat menimbulkan hal yang mengganggu, merugikan, dan bahkan membahayakan.
Mengingat data dalam sistem informasi menjadi bahan dalam pengambilan keputusan, maka keakurasian benar-benar harus diperhatikan.

Properti
Perlindungan terhadap hak properti yang sedang digalakan dalam hal Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).
Di negara Amerika, dalam bentuk tiga mekanisme :  Copyright , Patent, Trade Secret.
  • Copyright : Hak yang dijamin oleh kekuatan hukum yang melarang penduplikasian kekeyaan intelektual tanpa seijin pemegangnya .   Hak ini diberikan kepada pemegang selama masa hidup penciptanya plus 70 tahun.

  • Patent : Bentuk perlindungan terhadap kekayaan intelektual yang paling sulit didapatkan karena hanya akan diberikan pada penemuan-penemuan inovatif dan sangat berguna .  Hukum patent memberikan perlindungan selama 20 tahun.

  • Trade Secret : melindungi kekayaan intelektual melalui lisensi atau kontrak.  Pada Software, seseorang yang menandatangani  kontrak menyetujui untuk tidak menyalin perangkat lunak tersebut untuk diserahkan kepada orang lain atau dijual.
Akses
Adalah pada penyediaan akses untuk semua kalangan. Teknologi Informasi diharapkan malah tidak menjadi halangan dalam melakukan pengaksesan terhadap informasi bagi kelompok orang tertentu, tetapi justru untuk mendukung pengaksesan bagi semua pihak
Mengubah isi web kedalam bentuk suara ? (bagi tuna netra)

Masalah Keamanan
Secara garis besar, ancaman terhadap sistem informasi dapat dibagi menjadi dua macam :
  • Ancaman Aktif : ancaman mencakup kecurangan dan kejahatan terhadap komputer
  • Ancaman Pasif : ancaman mencakup kegagalan sistem (hardware) , kesalahan manusia dan bencana alam.
Metode Gangguan Keamanan
  • Manipulasi masukan
  • Penggantian Program
  • Penggantian berkas secara langsung
  • Pencurian data
  • Sabotase
  • Pencurian sumberdaya komputasi (pencurian password)
Teknik Hacking
  • Denial of Service : membuat permintaan yang sangat banyak terhadap suatu situs sehingga sistem menjadi overload
  • Sniffer : dalam bentuk program yang melacak paket data pada saat data tersebut sedang melintasi jaringan , misalnya password
  • Spoofing : pemalsuan alamat email atau web dengan tujuan menjebak pemakai agar memasukan informasi yang pentik (contoh kasus KlikBca.com)
  • Virus : penggalan kode program untuk tujuan tertentu yang bersifat negatif
  • Worm : menggandakan dirinya sendiri
  • Logic Bomb : aktif karena pemicu tertentu seperti sistem penanggalan sistem komputer, dll.
  • Trojan Horse : program penyusupan dalam sistem komputer

Selasa, 16 Agustus 2011

Etika Profesi Komputer

Kata Etika berasal dari bahasa Yunani Ethos, yang berarti karakter. Etika adalah satu set. kepercayaan, standar, atau pemikiran yang mengisi suatu individu, kelompok atau masyarakat. Semua individu bertanggung jawab kepada masyarakat atas prilaku mereka. Masyarakat dapat berupa suatu kota,negara atau profesi. Tindakan kita juga diarahkan oleh etika,tidak seperti moral, etika dapat sangat berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Kita melihat perbedaan ini di bidang komputer dalam bentuk perangkat lunak bajakan (perangkat lunak yang digandakan secara illegal lalu digunakan atau dijual).

James H. Moor berpendapat :
Etika komputer, merupakan analisis mengenai sifat dan dampak sosial teknologi komputer, serta formulasi dan justifikasi kebijakan untuk menggunakan teknologi tersebut secara etis. Oleh karena itu, etika komputer terdiri dari dua aktivitas utama, yaitu :
  1. Waspada dan sadar bagaimana komputer mempengaruhi masyarakat.

  2. Memformulasikan kebijakan-kebijakan yang memastikan bahwa teknologi tersebut digunakan secara tepat.
Pekerjaan – Profesi – Profesional – Kode Etik
Pekerjaan: usaha untuk mencari nafkah
Profesi:
  • Pekerjaan yg mengandalkan ketrampilan dan keahlian khusus

  • Pekerjaan yg dilakukan sebagai sumber utama nafkah hidup dg keterlibatan pribadi yg mendalam dalam menekuninya.

  • Pekerjaan yg menuntut pengembangan untuk terus menerus memperbaharui pengetahuan dan ketrampilan sesuai perkembangn teknologi.
Seseorang yang telah memilih sesuatu profesi disebut Profesional

Biasanya pada setiap profesi, terutama pada profesi yg berkaitan dg hajat hidup orang banyak, terdapat suatu aturan yg disebut ‘kode Etik’

Kode etik : yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja.

"10 Kode Etika Komputer"

Tujuan Kode Etik Profesi :
  1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.

  2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.

  3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.

  4. Untuk meningkatkan mutu profesi.

  5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.

  6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.

  7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.

  8. Menentukan baku standarnya sendiri.
Penyalahgunaan Profesi TI
  1. Tidak berjalannya control dan pengawasan dari masyarakat

  2. Organisasi profesi tidak di lengkapi denga sarana dan mekanisme bagi masyarakat untuk menyampaikan keluhan

  3. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai substansi kode etik profesi, karena buruknya pelayanan sosialisasi dari pihak profesi sendiri

  4. Belum terbentuknya kultur dan kesadaran dari para pengembang profesi IT untuk menjaga martabat luhur profesinya

  5. Tidak adanya kesadaran etis da moralitas diantara para pengemban profesi TI untuk menjaga martabat luhur profesinya.
Di dalam etika dan profesi komputer kita harus waspada dan sadar bagaimana komputer mempengaruhi masyarakat, sehingga kita juga harus memahami kode etik dalam penggunaan komputer dan memformulasikan kebijakan-kebijakan yang memastikan bahwa komputer tersebut digunakan secara tepat.

Rabu, 10 Agustus 2011

Teman

Teman,
kata sederhana yang tidak mudah ditemukan dalam kenyataan

Teman,
tak semua yang dekat bisa berlabelkannya

Teman,
ada kerinduan untuk selalu dapat bertemu dengan sosok sepertinya

Pernahkah kau temukan seseorang yang
senantiasa setia di sisimu
kala kau jatuh dan hilang asa.

Pernahkah kau dapati sesosok makhluk
yang selalu tahan mendengar kisahmu
kala angin membawa berita-berita busuk tentangmu.

Pernahkah handphone berdering di tengah malam,
hanya untuk sebuah kalimat pendek
“Apa Kabar Imanmu Malam ini ?”

Pernahkah kau tangkap butiran air mata
yang disembunyikan, sehabis doa panjang
yang padanya terselip namamu.

Dialah teman sejatimu

Sabtu, 23 Juli 2011

Kritikan

"Anda tidak berhak dipuji kalau tidak bisa menerima kritikan."
Halle Berry, 2005

Itulah kalimat dahsyat yang disampaikan Halle Berry, artis peraih Oscar melalui film James Bond 'Die Another Day' di tahun 2004 ketika mendapat piala Razzie Award.

Razzie Award adalah penghargaan yang diberikan kepada mereka yang dinilai aktingnya buruk. Label pemain terburuk ini didapatkan Halle setelah memainkan perannya di film 'Cat Woman'. Ia adalah orang yang pertama kali langsung datang ke tempat pemberian penghargaan tersebut. Tidak ada Aktor dan Artis lain sebelumnya yang sanggup datang dan hanya menyampaikan pesannya melalui video.

Sambutannya sungguh menarik : "Saya menerima penghargaan ini dengan tulus. Saya menganggap ini sebagai kritik bagi saya untuk tampil lebih baik di film-film saya berikutnya. Saya masih ingat pesan ibu saya bahwa... 'Kamu tidak berhak dipuji kalau kamu tidak bisa menerima kritikan'."

Tepukan tangan sambil berdiri sebagai bentuk ketakjuban dari para hadirin sangat memeriahkan malam itu. Ya, sangat sedikit orang yang sanggup menerima kritikan seperti Halle. Nah, sekarang, apa arti kritik bagi ? Apakah itu musibah buruk? Seperti bencana yang tidak terduga, atau... simbol kehancuran diri? Adakah yang bisa menganggap kritik layaknya ia menerima pujian?

Kritik memiliki banyak bentuk
Kritik bisa berupa nasehat, obrolan, sindiran, guyonan, hingga cacian pedas. Wajar saja jika setiap orang tidak suka akan kritik. Bagaimanapun, akan lebih menyenangkan jika kita berlaku dan tampil sempurna, memuaskan semua orang dan mendapatkan pujian. Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa kita bisa aman dari kritik? Tokh kita hanyalah manusia dengan segala keterbatasannya. Dan nyatanya, di dunia ini lebih banyak orang yang suka mengkritik, daripada dikritik. :-)

Kalau suka sepak bola, pasti sering mengamati para komentator dalam mengeluarkan pernyataan pedasnya. Padahal belum tentu kepandaian mereka dalam mengkritik orang lain sebanding dengan kemampuannya jika disuruh memainkan bola sendiri di lapangan. ;-)

Belum lagi para pakar dan pengamat politik, ekonomi, maupun sosial. Mereka ramai-ramai berkomentar kepada publik, seolah pernyataan merekalah yang paling benar. :-)

Namun bukan itu permasalahannya

Pertanyaannya sekarang adalah...
seandainya  mendapatkan kritikan, yang sakitnya melebihi tamparan, apa yang harus  lakukan?

Jawabannya adalah
"Nikmatilah setiap kritikan layaknya kue kegemaran kita"

Mungkinkah? Mengapa tidak! :-)

Kita mempunyai wewenang penuh untuk mengontrol perasaan kita.
Berikut tips untuk kita saat menghadapi kritik:

Ubah Paradigma Kita Terhadap Kritik
Tidak sedikit orang yang jatuh hanya gara-gara kritik, meski tidak semua kritik itu benar dan perlu ditanggapi. Padahal, kritik menunjukkan adanya yang *masih peduli* kepada kita. Coba perhatikan perusahaan-perusahaan besar yang harus mengirimkan berbagai survey untuk mengetahui kelemahannya. Bayangkan jika kita harus melakukan hal yang sama, mengeluarkan banyak uang hanya untuk mengetahui kekurangan kita! LoL. :-)
Kritik merupakan kesempatan untuk koreksi diri. Tentu saja akan menyenangkan jika mengetahui secara langsung kekurangan kita, daripada sekedar menerima dampaknya, seperti dikucilkan misalnya.

Cari Tahu Sudut Pandang Si Pengkritik
Tidak ada salahnya mencari tahu detil kritik yang disampaikan. Kita bisa belajar dari mereka dan melakukan koreksi terhadap diri kita. Bisa jadi kritik yang disampaikan benar adanya. Jika perlu, justru carilah orang yang mau memberikan kritik sekaligus saran kepada kita. Tokh kita tidak akan menjadi rendah dengan hal itu. Justru sebaliknya, pendapat orang bisa jadi membuka persepsi, wawasan, maupun paradigma baru yang mendukung goal .

Kritik Tidak Perlu Dibalas Dengan Kritik!
Tanggapi kritik dengan bijak.  tidak perlu merasa marah atau memasukkannya ke dalam hati. Toh menyampaikan pendapat adalah hak semua orang. Nikmatilah apapun yang mereka sampaikan. Tidak ada ruginya untuk ringan dalam mema'afkan seseorang. Anggaplah semua itu untuk perbaikan yang menguntungkan kita kelak. Jangan pernah kita balas kritik dengan kritik. Karena hal ini hanya akan membuat perdebatan, menguras tenaga & pikiran. Tidak ada gunanya...

Terimalah Kritikan Dengan Senyuman.
Ini semua bisa melatih mental kita agar bisa *tegar* menghadapi ujian yang lebih hebat di kemudian hari. Singkatnya, kita memang hanya layak dipuji jika sudah berani menerima kritikan. Meski tidak mudah, asah terus keberanian.

Jumat, 15 Juli 2011

Rasa Minder (Self Esteem)

Minder, semua orang tahu maknanya, adalah sikap yg manusiawi. Semua orang memiliki sikap dan perasaan ini dg level yg berbeda. Minder adalah manusiawi, akan tetapi menjadi tidak manusiawi lagi ketika kita tidak berusaha untuk menghilangkan sikap dan perasaan minder ini tahap demi tahap.

Sikap dan rasa minder timbul pada hal dan bidang tertentu yg kita merasa tidak mampu atau merasa lemah dari ukuran standar umum atau ideal. Seorang pemuda yg pendek akan merasa minder untuk mengajukan “proposal” pada gadis idamannya yg ternyata lebih tinggi. Lelaki yg berwajah jelek merasa minder pada wanita yg berwajah sangat cantik yg ditaksirnya, dst.

Itu minder yg bersifat fisik. Sedang yg bersifat non-fisik lebih berkaitan dg sikap mental dan pola pikir kita dalam menilai diri sendiri, dalam menilai kemampuan diri. Pada sosok pribadi yg memiliki sifat minder non-fisik yg ekstrim, biasanya dia akan merasa tidak memiliki kemampuan sama sekali, merasa orang lain jauh lebih mampu darinya, dll. Sehingga tipe semacam ini tidak akan bisa bersikap independen dan memiliki ketergantungan yang besar pada orang lain di sekitarnya. Ketergantungan pada orang lain itu akan semakin mengecil bersamaan dg semakin kecilnya keminderan kita pada kemampuan kita sendiri.

Minder adalah tipikal orang yg bermental lemah. Mental yg lemah akan merasa selalu tidak aman. Selalu gelisah dan kuatir. Karena kerja otak sudah dipenuhi dg rasa kuatir, takut dan gelisah tanpa sebab atau disebabkan oleh hal-hal kecil, maka kerja otakpun menjadi lemah dan tidak dapat berfungsi untuk memikirkan hal-hal besar yg bermanfaat buat diri sendiri dan orang lain.

Oleh karena itu, minder harus sebisa mungkin dihindari dan dicari jalan keluarnya dalam rangka mengubah pribadi kita menuju kepribadian yg self-esteem. Suatu tipe kepribadian yg dimiliki orang-orang besar, tokoh-tokoh besar dunia, para pemikir internasional.

Self Esteem
Dapatkah seorang yg berkepribadian minder (low self-esteem) yg parah dapat menjadi profil yg penuh self esteem? Tentu bisa. Dg bekal kemauan kuat untuk berubah, banyak bergaul dg berbagai kalangan, banyak membaca profil tokoh-tokoh besar, dan membaca berbagai buku-buku yg memberi solusi mengatasi keminderan, dll. Salah satu tip menuju pribadi yg self esteem adalah sbb:
  1. Hadapi rasa takut, jangan dihindari, toh ia tidak akan berakibat seburuk yg anda kira. Melawan rasa takut akan menambah percaya diri anda.
  2. Lupakan kegagalan masa lalu - belajarlah dari kesalahan itu tetapi janganlah mengira sesuatu itu salah sebelum ia akan terjadi lagi. Hindari membuat kesalahan yg sama tetapi jgn membatasi diri anda dg mengira bahwa anda gagal sebelumnya sehingga tidak akan bisa berhasil kali ini. Coba lagi, maka anda akan menjadi lebih bijak dan lebih kuat. Jangan terperangkap pada masa lalu.
  3. Ketahui apa yg anda mau dan usahakan mendapatkannya. Anda berhak mendapatkan mimpi anda menjadi kenyataan.
  4. Hargai diri sendiri bila anda telah berhasil dalam berbuat sesuatu. Bila tidak mengapa orang lain mesti menghargai anda? Bukankah akan lebih mudah apabila anda membantu dan menghargai diri sendiri?
  5. Berbicaralah pada orang lain - Kita sering membuat asumsi tentang situasi atau seseorang yg tidak benar. Sikap dan pola pikir negatif kita dapat berdampak negatif pula pada diri sendiri. Karena itu bila anda merasa ragu maka bertanyalah dan jangan berasumsi bahwa anda tau mengapa dan bagaimananya.
  6. Bila anda gagal maka pola pikir terpenting adalah jangan merasa kalah. Terima kegagalan itu, pelajari, dan cobalah hal dan cara lain. Anda tidak akan dikalahkan oleh satu kegagalan bukan? Apa yg dibutuhkan adalah pendekatan yg berbeda dalam mencapainya

Rabu, 13 Juli 2011

Untuk Ibu

Ibu...
Bukannya aku malas dan suka melamun, tapi aku lagi menyiapkan diriku menerima seluruh keindahan alam semesta.

Beri aku kesempatan berdiam sejenak karena gambar-gambar kehidupan yang sedang kurekam akan membuatku bisa memahami simfoni dan harmoni. Ingin sekali aku menciptakan melodi yang indah agar Ibu bisa menikmatinya sambil membuatkan aku masakan yang enak.

Ibu...
Bukannya aku tak bisa menjumlah 2 + 0 + 4, tapi aku lagi melihat seekor bebek berenang di kolam yang indah dengan deretan kursi cantik di sekelilingnya.

Beri aku kesempatan merekamnya di alam kesadaranku karena ingin sekali aku membuatkan Ibu sebuah kolam renang yang indah dan kita duduk bersama di kursi yang empuk dan cantik sambil menikmati bahagianya bebek berenang.

Ibu...
Bukannya aku tak mau mendengar dan menatap mata Ibu ketika dongeng-dongeng itu dibacakan dan lagu nina bobo dinyanyikan, tapi aku lagi merasakan indahnya suara Ibu berpadu dengan suara-suara lain di kamar ini.
Beri aku kesempatan menikmatinya karena suatu hari nanti akan kubuatkan sebuah ruangan agar Ibu bisa menyanyi dan mengaji. Di Ruangan itu kita bisa bernyanyi bersama dan selalu bisa kunikmati suara Ibu yang merdu melantunkan ayat-ayatNya.

Ibu,...
Bukannya aku tak bisa membaca kata demi kata yang ibu ajarkan, tapi aku lagi merekam taburan kata-kata agar terangkai sebuah kalimat yang indah, layak dan sopan.

Beri aku kesempatan melihat kata-kata itu saling merangkai, karena aku ingin menulis sebuah puisi yang indah yang spesial untuk aku persembahkan di hari ulang tahun Ibu.

Ibuku Sayang...
Kalau Ibu marah dan mencubit, tangis dan air mataku itu bukanlah karena aku benci atau marah. Aku hanya sedih jika cubitan dan amarah Ibu mengikis rasa sayang, cinta, dan potensiku untuk menghadiahi Ibu sebuah rumah mungil dengan kolam renang, ruang bernyanyi dan dapur yang indah.

Dan hatiku akan sangat menyesal jika tak tak sanggup merangkai dan membacakan puisi indah di hari spesial Ibu. Karena bagiku : IBU ADALAH SEGALANYA.

Suasana Hati Anda ?

Jangan pernah meremehkan suasana hati anda sebab kalau hati sedang dalam kondisi buruk, bisa merusak kesehatan bahkan bisa berakibat pada kematian, berdasarkan penelitian dari Dr. Ghanshyam Pandey dari University of Illinois, Chichago, belum lama ini kasus memburuknya kesehatan & mempercepat kematian ditengah masyarakat karena dipicu oleh suasana hati yang buruk.  Kondisi memburuknya suasana hati disebabkan banyak faktor, diantaranya putus asa, patah semangat secara sekilas tidak berbahaya namun bisa berakibat fatal. Gangguan umum yang berkaitan dengan suasana hati yang memburuk dalam beberapa bentuk seperti gangguan tidur, gangguan pada kulit, gangguan pada perut, tekanan darah, pilek, migran, sakit kepala yang disertai dengan mual dan gangguan penglihatan, sejumlah penyakit tulang, ketidakseimbangan ginjal, kesulitan bernapas, alergi, serangan jantung dan membengkakan otak, tentu saja tidak semua jenis penyakit itu  berkaitan dengan suasana hati namun secara alamiah telah dibuktikan bahwa penyebab gangguan kesehatan semacam itu lebih disebabkan faktor kejiwaan.

Putus asa, kekecewaan, depresi dan berbagai jenis penyakit yang menimpa banyak orang adalah suasana hati yang selalu diliputi oleh kekhawatiran akibat perasaan seperti cemas, takut, merasa tidak aman, ledakan emosional yang berlebihan dan berbagai tekanan yang merusak keseimbangan tubuh. Ketika seseorang mendapatkan tekanan atau beban diluar batas kesanggupan dirinya, tubuhnya bereaksi dan membangkitkan bunyi sirine sebagai tanda bahaya  sehingga memicu reaksi biokimia didalam tubuh, kadar andrenalin meningkat, reaksi tubuh meninggi, gula, kolesterol dan asam lemak bergerak ke dalam aliran darah, tekanan darah menjadi meningkat dan denyut jantung berdetak kencang. Glukosa berjalan menuju otak, kadar kolesterol naik, dan semua ini membuat tubuh memburuk.

Oleh karena itu janganlah meremehkan suasana hati anda karena suasana hati yang memburuk mengubah fungsi-fungsi normal di dalam tubuh. Hal itu bisa berakibat fatal pada kesehatan tubuh anda. Dampak negatifnya meningkatnya andrenalin dan kolesterol diatas ambang batas normal dalam rentang waktu yang cukup lama seperti diabetes, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kanker, luka pada dinding pencernaan, penyakit pernapasan, eksim, psoriasis bahkan berdampak terbunuhnya sel-sel otak. Semua perubahan yang terjadi pada tubuh dari keadaan yang semula sehat ke kondisi sakit disebut sebagai penyimpangan citra tubuh atau 'Distortion of body image' adalah dampak dari suasana hati yang memburuk yang menyerang kondisi kesehatan tubuh.

Maka disinilah pentingnya arti ketenteraman hati bukan hanya membuat nyaman namun juga membuat tubuh anda menjadi sehat. Ketenteraman hati anda hanya bisa anda dapatkan dengan mendekatkan diri kepada Allah, semakin dekat anda kepada Allah dengan selalu mengingat-Nya maka semakin mudah hati anda menjadi tenteram. 'Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram.' (QS. Ar-Raad 28).

Jumat, 08 Juli 2011

Kenali Diri Sendiri

Kepribadian Sanguis (Sanguis yang Populer)
Kemampuan orang Sanguinis yang Populer untuk melangsungkan percakapan yang mengasyikkan apakah mengenai sesuatu merupakan segi plus yang membuat iri hati orang lain; tetapi kalau dibawa sampai ke ujung yang ekstrim, orang Sanguinis yang Populer bicara terus-menerus, memonopoli, menyela, dan menyimpang terlalu jauh dari kebenaran.

Bergaul dengan orang sanguin ini sebenarnya menyenangkan, jika dia bercerita dia bisa menggambarkan sesuatu dengan baik, sehingga pikiran kita diajak untuk merangkai katanya-katanya seperti sebuah film di kepala kita, saking bagusnya penggambaran ceritanya.

Kepribadian Melankolis (Melankolis yang Sempurna) :
Orang Melankolis yang Sempurna memiliki pemikiran analitis yang mendalam dan merupakan ciri khas yang jenius, banyak dihormati oleh mereka yang pikirannya lebih dangkal, walaupun demikian kalau dibawa sampai ke titik ekstrim, dia jadi menyebabkan kemurungan dan menekan perasaan.

Kadangkala bergaul dengan orang melankolis menimbulkan kebosanan dalam diri kita, semuanya serba teratur dan teliti, segala sesuatu dikerjakan dengan langkah-langkah yang jelas dan terstruktur. Kalau lama dalam proses pengerjaan bukan karena malas tetapi karena hasilnya harus sempurna. Ciri-ciri kalau kita bertemu dengan orang Melankolis ini biasanya dilihat dari kamar tidur/kantornya, semuanya serba rapi, tertib dan terpola (keculai kalau punya asisten/istri yang siap membereskan arisip-arsip yang berantakan).

Dan orang Melankolis ini susah sekali diyakinkan, perlu data-data otentik yang mendukung argumentasi kita. Dan secara ekstrim dalam hal keuangan orang Melankolis cenderung (sory lho.. dalam titik extrim) pelit, tapi untuk mengenai hasil pekerjaan, Orang Melankolis jagonya. Sangat pandai mengorganisasi sesuatu.


Kepribadian Koleris (Koleris Kuat) :
Bakat orang Koleris yang Kuat untuk kepemimpinan yang cepat dan tajam sangat diperlukan dalam setiap tahap kehidupan pada zaman sekarang; tetapi kalau dibawa sampai titik esktrim, orang Koleris yang Kuat jadi sok berkuasa, mendominasi, dan manipulatif. Setiap pemimpin mempunyai sifat ini, tegas, lugas, dan salah satu untuk mengenai ciri-ciri kepribadian ini adalah selalu ingin di depan tidak mau kalah dengan orang lain.

Secara extrim, orang dengan kepribadian ini menjadi orang yang diktaktor, selalu tampil dominan dan tidak mau dibawah orang lain, pinginnya selalu diatas dalam segala hal. Orang dengan kepribadian Koleris sangat mahir untuk urusan mengorganisir banyak orang dengan sifatnya yang tegas.


Kepribadian Phlegmatis (Phlegmatis yang Damai) :
Sifat orang Phlegmatis Damai yang mudah bergaul merupakan perpaduan yang mengagumkan dan menjadikannya orang yang paling disukai dalam kelompok mana saja; namun kalau dibawa sampai ke titik ekstrim, orang Phlegmatis yang Damai tidak peduli melakukan apa pun, masa bodoh, dan tidak punya kepastian.

Ciri-cirinya yang mudah dilihat adalah tidak mempunyai sikap yang jelas dalam mengambil keputusan, tidak mau secara tegas memihak sesuatu yang belum diketahuinya, cenderung damai dan tidak mau berkonfrontasi secara langsung dengan orang lain. Terkadang orang Phlegmatis memang harus didikte untuk mengerjakan sesuatu (secara extrim), biasanya orang phlegmatis kurang mahir untuk urusan-urusan yang detail, seperti yang paling sederhana merapikan kamarnya, tetapi seorang Phlegmatis bisa menjadi peloby yang ulung dan bisa diandalkan untuk urusan berhubungan atau berkomunikasi dengan orang lain, karena sifatnya yang kalem dan tenang.


Kepribadian Campuran dari Kepribadian Dasar
Keempat tipe kepribadian tersebut, menurut Littauer, juga bisa bercampur dalam diri seseorang. Littauer membedakannya menjadi empat :
  • Campuran alami adalah: Sanguinis Koleris dan Melankolis Phlegmatis.
  • Campuran pelengkap yang berorientasi hubungan adalah: Sanguinis Phlegmatis
  • Campuran pelengkap yang berorientasi tujuan adalah: Koleris Melankolis
  • Campuran berlawanan dianggap sebagai pertikaian batin adalah: Sanguinis Melankolis dan Koleris Phlegmatis.
Sedangkan yang mempunyai sedikit dari segalanya, dengan asumsi sudah mengikuti tes kepribadian dengan benar, dianggap mungkin Phlegmatis, mungkin orang sempurna, atau mungkin orang yang masa kecilnya terlalu diarahkan, dikontrol, dan ditindas sehingga tidak mengenali diri sendiri.

Termasuk manakah Anda?

Karakter Manusia Dalam Menghadapi Masalah

BANYAK cara untuk menilai karakter asli seseorang. Tetapi ini adalah cara yang cukup sederhana untuk mengenali 4 tipe seseorang dalam menghadapi berbagai macam tekanan. Sebab tekananlah yang   sesungguhnya sangat membentuk watak dan karakter, sekaligus menentukan bagaimana orang bereaksi dengan kondisi ini dikemudian hari.

Secara sederhana ada 4 tipe orang dalam menghadapi berbagai macam tekanan tersebut :
  1. Tipe lempeng logam, tipe orang ini, pada awalnya seperti kuat menerima tekanan, seperti lempeng logam ini, tapi kalau tekanan itu diterimanya terus menerus maka lempeng logam ini akhirnya akan bengkok juga, artinya tipe orang ini awalnya dia bisa mengatasi tekanan yang datang, tapi bila tekanan itu terus menderunya lama lama ketahanan mentalnya berkurang, lama-lama dia menyerah, hingga akhirnya ada yang masuk kedalam keputusasaan, tapi tipe ini ada kelebihannya setidaknya dia bisa bertahan di fase awal sebelum dia menyerah, sebenarnya tipe orang ini bisa dibantu untuk meningkatkan ketahanan mentalnya, dengan sedikit bimbingan dan dorongan untuk terus maju dan pantang menyerah dalam menghadapi tekanan dengan membangkitkan jiwa menantang, bila kita dampingi terus tipe orang ini bisa berkembang menjadi lebih baik dan terus menjadi lebih baik, bila kesadaran dalam dirinya merasa tertantang untuk menghadapi semua kesulitan dan tekanan itu.
  2. Tipe busa/gabus (sponge), tipe orang ini cukup baik dalam menerima tekanan, seperti halnya busa/gabus yang lentur, bisa menyesuaikan dirinya terhadap tekanan dan cepat kembali ke bentuk semula, tipe orang ini sangat fleksibel dalam menghadapi tekanan, dan umumnya tipe ini bisa bertahan dan lebih baik dalam mengatasi semua tekanan dan kesulitan.
  3. Tipe cangkang telur, orang dengan tipe ini sangat rapuh, sedikit mengalami tekanan saja sudah patah arang, sering kali tipe ini mengalami stres dan bisa masuk ke dalam depresi hingga mendatangkan rasa putus asa, sebenarnya orang tipe ini bisa diperbaiki watak dan karakternya selama dia memiliki orang-orang terdekatnya yang selalu mendukung dan membantu semua kesulitannya, tidak seterusnya dia harus bergantung dengan orang lain, tapi kita bantu agar orang ini bisa menumbuhkan ketahanan mentalnya dengan menumbuhkan kepercayaan dirinya dari dalam, artinya dari kesadarannya sendiri, bila tipe orang ini mau berusaha dengan keras pasti dia bisa merubah watak dan karakternya ke arah menjadi lebih baik.
  4. Tipe bola bekel atau bola pingpong, tipe orang ini sangat ideal dari pada semua tipe di atas, tipe ini sangat ekspresif terhadap tekanan, seperti bola bekel/pingpong ini, bila dibanting/ditekan makin terpantul ke sana kemari, artinya tipe orang ini tidak gampang menyerah, dia selalu mencari jalan keluar dalam setiap tekanan, bahkan tekanan yang didapatinya membuat dia lebih kreatif dan ekpresif untuk menghadapi semua tekanan dan kesulitan, biasanya orang dengan tipe ini bisa meraih kesuksesan di bidang yang digelutinya.
Dari keempat tipe yang sudah dipaparkan, termasuk yang manakah Anda? Tidak perlu risau jika Anda bukan tipe ideal seperti tipe bola bekel, tiap-tiap kekurangan bisa diperbaiki gradasinya. Kuncinya adalah harus sadar dulu akan kondisi Anda, dan buatlah kesadaran yg timbul dari dalam diri ini menjadi kekuatan untuk merubah grade menjadi lebih baik.