Sabtu, 05 November 2011

Pendidikan Komputer

Pendidikan generasi muda dalam membentuk sumber daya manusia yang potensial merupakan kunci utama kemajuan suatu bangsa. Inti pendidikan itu sendiri (baik resmi atau tidak) pada dasarnya adalah proses alih informasi dan nilai-nilai yang ada. Selama proses ini terjadi, pengalaman dan kemampuan menalar / mengambil kesimpulan seseorang bertambah baik. Hasil akhir suatu proses pendidikan adalah terbentuknya seseorang yang mampu berdiri sendiri, bekerja dan tak pernah berhenti untuk belajar serta mengembangkan apa yang pernah diperolehnya. Kami berpendapat bahwa hambatan yang ada umumnya hanya berkisar pada "tak kenal maka tak sayang". Penanggulangan permasalahan ini, khususnya yang berkaitan dengan pendidikan komputer akan dibahas dalam tulisan ini.

Proses belajar mengajar dalam dunia pendidikan secara umum melibatkan dua sumber informasi yang cukup penting yang diperoleh dari interaksi antar manusia dan media informasi yang bukan manusia. Sumber informasi yang bukan manusia dapat berupa media cetak dan media audio-visual. Media audio visual dapat sangat membantu proses peralihan informasi, terutama untuk hal hal yang sifatnya objektif. Manusia tetap dibutuhkan untuk hal hal yang sifatnya subjektif, seperti pengenalan nilai nilai pada masyarakat.

Khususnya pada penggunaan media cetak dan audio-visual, para siswa dituntut untuk bergerak aktif mencari informasi dan ilmu yang diinginkan. Dengan adanya alat bantu komputer yang semakin canggih, kesempatan untuk coba-coba dan bermain untuk membuka wahana informasi semakin besar. Tentunya hal ini bukan tanpa kesulitan dan tantangan. Beberapa tahapan perlu dilalui untuk menyiapkan seseorang untuk dapat bekerja secara leluasa dengan menggunakan komputer. Langkah-langkah tersebut akan merupakan titik berat pembahasan tulisan ini. Perlu ditekankan bahwa untuk menjadi seorang yang leluasa bekerja menggunakan komputer, pengetahuan tentang cara kerja, teknik pengoperasian dan wawasan tentang kelebihan dan kekurangan perangkat lunak yang akan digunakan menjadi cukup penting.

Pemakaian komputer di Indonesia pada umumnya masih berkisar sebagai alat bantu dalam merepresentasikan informasi. Hal ini tampak jelas di perkantoran serta lembaga-lembaga lain, komputer umumnya digunakan sebagai alat pengganti mesin tik. Tentunya perangkat lunak yang digunakan juga bermacam-macam, mulai dari WordStar, WordPerfect sampai pada perangkat lunak desktop publishing seperti Ventura.

Berawal dari kondisi diatas, pengembangan perlu dilakukan dengan berpegang pada pemikiran dasar bahwa komputer hanyalah alat bantu untuk merepresentasikan informasi. Kami berpendapat bahwa hambatan utama yang ada umumnya hanya karena masalah-masalah "tak kenal maka tak sayang". Hal ini ditunjukan oleh adanya berbagai hal seperti buta komputer, perasaan takut pada komputer dsb. Proses pengenalan tentunya memakan waktu dan perlu dilakukan secara bertahap. Apalagi untuk tingkat sekolah dasar dan menengah, prinsip belajar sambil bermain yang merangsang untuk berani mengambil resiko perlu diterapkan. Hal-hal ini diharapkan menimbulkan pengertian akan keterbatasan kemampuan komputer serta cara pemanfaatan komputer semaksimal mungkin.

Langkah yang umum dilakukan di  lembaga pendidikan komputer yang ada di Indonesia sering menitikberatan pada jumlah materi yang diberikan tanpa penekanan pada pemahaman proses / cara berfikir untuk bekerja menggunakan komputer. Orang sering berfikir bahwa semakin banyak bahasa komputer yang diajarkan semakin baik. Keadaan semakin memburuk dengan banyaknya oang yang mengikuti kursus komputer hanya untuk mengejar sertifikat untuk mencari pekerjaan. Kemauan untuk mengembangkan diri, berani belajar dan mengambil resiko tidak terlalu ditekankan.

Permasalahan diatas menunjukan betapa pentingnya pemahaman konsep bekerja dengan menggunakan komputer. Ada beberapa langkah umum yang dapat ditempuh agar seseorang dapat bekerja semaksimal mungkin dengan menggunakan komputer. Bertolak dari pemahaman bahwa komputer merupakan alat bantu untuk mempresentasikan informasi. Beberapa langkah yang dapat ditempuh untuk memasyarakatkan komputer adalah sebagai berikut.

Tahap awal adalah memahami pengoperasian komputer. Disini diperkenalkan berbagai konsep tentang komputer mulai dari istilah, perintah, cara kerja dan konfigurasi yang digunakan. Hal ini dapat dilakukan sedini mungkin sejak sekolah dasar atau sekolah menengah pertama. Pada tahap ini juga ditanamkan keuntungan-keuntungan yang bisa diperoleh dengan adanya alat bantu komputer. Pengenalan dapat dilakukan menggunakan teknik "belajar sambil bermain". Pemahaman dilakukan melalui contoh penggunaan perangkat lunak untuk memresentasikan informasi seperti perangkat lunak pemroses kata (WordStar, WordPerfect) atau perangkat untuk menggambar (CorelDraw, Dr. Halo). Karena sifat perangkat lunak yang ada umumnya cukup mudah dioperasikan, perasaan takut untuk menghadapi komputer dapat dikikis sedikit demi sedikit dan diganti dengan perasaan senang bekerja dengan komputer.

Perangkat lunak dapat pula membantu para pelajar tingkat sekolah dasar dan tingkat menengah dalam memahami pelajaran misalnya untuk pelajaran matematika, perangkat lunak (MACSYMA, MAPLE) dapat digunakan untuk membantu proses pemecahan persamaan matematika. Disamping itu, ada perangkat lunak lainnya untuk pendidikan, misalnya untuk latihan soal-jawab bahkan simulasi laboratorium. Sebagian perangkat lunak ini bahkan dapat diperoleh secara cuma-cuma karena merupakan perangkat lunak public domain. Perangkat lunak public domain bukanlah perangkat lunak bajakan. Pencipta perangkat lunak public domain dengan sengaja melepaskan perangkat tersebut untuk digunakan secara cuma-cuma oleh masyarakat.

Setelah cukup mapan dan leluasa dalam menggunakan komputer sebagai alat bantu presentasi informasi, tahap selanjutnya adalah mengembangkan kemampuan siswa untuk bekerja dan menganalisa masalah menggunakan komputer. Pada tahapan ini konsep-konsep seperti basis data (data-base), aplikasi tabel (spread-sheet) untuk membantu memecahan masalah dapat diketengahkan. Kemampuan untuk meninjau informasi yang ada dan memformulasikan dalam perangkat lunak yang digunakan dapat dikembangkan.

Jika prasarana fisik memungkinkan, pada tahapan selanjutnya diketengahkan konsep bermasyarakat menggunakan komputer. Untuk mewujudkan hal diatas, jaringan komputer mutlak diperlukan. Konsep-konsep untuk berdiskusi secara elektronik, tata-cara yang digunakan, kemungkinan bekerja sama secara elektronis dapat dikembangkan disini. Tingkat ini akan berjalan baik pada tingkat mahasiswa universitas atau tingkat lainnya yang lebih tinggi. Kerjasama secara elektronis antar berbagai lembaga penelitian - industri - perguruan tinggi akan menjadi kenyataan pada tahap ini. Mungkin menarik untuk disimak bahwa proses penulisan artikel ini merupakan hasil diskusi yang kami lakukan secara elektronik menggunakan jaringan komputer milik Universitas di Canada.

Pada tahap akhir, kemampuan untuk membuat sendiri perangkat lunak-perangkat lunak yang dibutuhkan dapat dikembangkan. Teknik pemrograman yang baik, misalnya pembuatan perangkat yang terstruktur dengan baik, tersimpan dalam file-file yang terpisah untuk memudahkan pencarian kesalahan dsb., dapat diajarkan.

Tiap tahap diatas sifatnya berdiri sendiri walaupun tahap yang satu merupakan kelanjutan tahap yang lain. Seseorang dapat berhenti pada setiap tahap tergantung pada kebutuhannya. Tampak jelas bahwa titik berat langkah yang diambil adalah membentuk seseorang yang mampu bekerja secara leluasa menggunakan komputer. Di samping itu, orang tersebut pada akhirnya akan senang dan berani mempelajari hal-hal yang baru yang berkaitan dengan dunia komputer.

Pola Bisnis Dan Kiat Sukses Di Internet

Terus terang pertanyaan seperti ini yang termasuk paling sering saya terima dari rekan-rekan. Sialnya banyak sekali berita-berita yang memberikan kesan bahwa bisnis di Internet sangat menjanjikan pemasukan uang pada saat IPO, seperti banyak kejadian di NASDAQ. Akhirnya banyak penguasaha menjual mimpi dan menjual saham-nya dengan harga yang hampir tidak masuk di akal untuk memperoleh keuntungan yang luar biasa pada saat IPO tersebut.

Memang saya bukan ahli ekonomi, saya seseorang dengan background teknik yang lebih sering berkecimpung di Internet. Koq saya terus terang kurang merasa sreq dengan cara-cara jual mimpi itu. OK lah nilai saham pada saat IPO dapat di dongkrak menjadi sangat tinggi, tapi saya yakin bahwa masalah utamanya kan bukan di nilai saham pada saat IPO. Yang lebih penting adalah bagaimana mempertahankan nilai saham tersebut bahkan jika mungkin menaikan nilai saham tersebut. Dan saya yakin sekali bahwa pola mempertahankan harga saham bahkan menaiknya harga saham merupakan indikasi kuat akan komitmen & prestasi usaha yang dijalankan; hal yang sama akan berlaku umum baik di usaha di Internet maupun di non-Internet.

Pengalaman saya selama kurang lebih 15 tahun berkecimpung di dunia jaringan komputer & informasi, saya rasa yang dibutuhkan adalah dedikasi, komitmen & kesungguhan untuk memberikan servis sebaik mungkin pada masyarakat / pelanggan / customer. Keuntungan utama dari Internet adalah kemungkinan yang sangat effisien untuk melayani masyarakat banyak dalam waktu yang sangat singkat dengan biaya yang sangat murah. Gilanya lagi berbeda dengan pola-pola usaha konvensional yang tidak terlalu interaktif (lebih bersifat satu arah), di Internet memungkinkan kita membangun wahana yang lebih interaktif sehingga pembangunan komunitas yang lebih solid dapat dilakukan dengan mudah; dalam pola lama lebih banyak indoktrinasi satu arah dalam membangun masyarakat – jadi sangat berbeda, di Internet yang terjadi lebih kearah pemberdayaan di dasari komunikasi 2 arah.

Keberadaan komunitas yang bertumpu pada kualitas informasi & aktifitas-nya akhirnya menjadi parameter utama dalam menentukan keberhasilan seseorang / sebuah usaha apakah berhasil atau tidak. Pembentukan komunitas yang paling sederhana sebetulnya dapat dilakukan dengan bermodalkan akses e-mail dan kemampuan leadership yang tinggi tentunya tidak akan lepas dari idealisme & motivasi yang baik.

Strategi selanjutnya yang sangat penting adalah kemampun untuk memperoleh profile dari komunitas yang dibentuk, siapa saja komunitas tsb, berapa usia-nya, bagaimana pola konsumsi-nya, bagaimana pola kerja-nya, bagaimana tingkat pendapatannya.Cara memperoleh profile ini, sebetulnya sederhana contohnya dapat dilihat di beberapa portal media online seperti detik.com, astaga.com dll yang memberikan e-mail gratis dan harus registrasi yang kemudian dapat ditangkap secara mudah profile si pengguna.

Dengan adanya massa / komunitas yang solid dan aktif dalam jumlah cukup besar yang diketahui secara cukup baik profile-nya maka jangan kuatir masalah modal dan finansial-nya. Karena percaya atau tidak, akan ada banyak modal ventura maupun Bank yang akan mengejar anda-anda. Karena komunitas / captive market tersebut akan menjadi jaminan bagi modal ventura / bank akan keberhasilan usaha anda di Internet. Saya sangat sarankan untuk tidak membalik proses-nya – yaitu dengan memberikan janji-janji ke bank / modal ventura kemudian setelah anda memperoleh dana baru berusaha membuat portal dan membangun komunitas, saya akan menjamin bahwa membalik proses ini akan membutuhkan biaya yang jauh lebih besar dengan kemungkinan gagal yang tinggi.

Apa Saja Jenis E-Commerce?

E-Commerce jelas ada beberapa jenis ada yang sifatnya badan usaha ke end user (B2C), ada yang antar badan usaha (B2B), ada yang antar orang seperti iklan barus (C2C).

Untuk dunia usaha pilihan utama-nya tinggal 2 yaitu B2C & B2B. Hasil survey Markplus & Swa di awal tahun 2000 tampak jelas bahwa dunia B2C sebetulnya suram bayangkan saja 90,1% responden tidak melakukan transaksi B2C artinya hanya 9,9% responden yang melakukannya. Dari 9.9% yang melakukan transaksi B2C 73,2% melakukan sekali lebih dari satu bulan, 17,0% melakukan sebulan sekali, 3,6% melakukan 2-3 minggu sekali dan 6,3% melakukan sekali seminggu. Belum lagi resiko fraud yang tingkat-nya mencapai 60-70%-an hasil analisa teman-teman di radioclik.com.

Jelas bahwa untuk survive di B2C ada beberapa trik yang harus dilakukan seperti mencheck ulang dengan cara menelepon si pemegang kartu kredit tentang pembelian yang dia lakukan dll.

Sebetulnya jika kita lihat peta e-commerce dunia, B2C juga tidak menarik – B2B jauh lebih menarik dibandingkan B2C. Data Forrester Research Inc. menunjukan transaksi B2B di tahun 1998  US$43 milyard dengan tingkat pertumbuhan 99% yang mencapai US$1.3 trilyun di tahun 2003. Sedangkan B2C bisa dilihat dari pembelanjaan iklan di Internet yang hanya US$ 2.8 Milyard di tahun 1998 dan meningkat ke US$ 22 Milyard di tahun 2004. Statistik Forrester Research Inc. ini menunjukan kesimpulan yang sederhana yaitu bahwa B2B akan jauh lebih menguntungkan dibandingkan B2C.

Padahal B2B memerlukan peralatan yang jauh lebih sederhana daripada B2C, seseorang yang bermodalkan e-mail saja sudah cukup untuk melakukan transaksi B2B – tentunya penguasaan teknik marketing, penguasaan komunitas, knowledge management, knowledge base, aktifitas di mailing list yang sering saya bahas di berbagai kesempatan menjadi penting untuk survival B2B.

Alternatif Sumber Daya Manusia Untuk Industri

"Lulusan perguruan tinggi tidak siap pakai!" begitu komentar klasik terhadap sarjana lulusan perguruan tinggi di Indonesia. Tentunya ada argumen lain dari pihak perguruan tinggi, misalnya "Perguruan tinggi bertugas untuk menelurkan pemikir / perencana bukan sekedar tukang; polyteknik yang menelurkan tukang". Akibatnya apa? industri / perusahaan mau tidak mau harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendidik para sarjana agar "siap pakai". Syukur-syukur kalau pekerjaan yang dilakukan para sarjana ini sesuai dengan bidang yang ditekuni di perguruan tinggi. Yang disayangkan (dan sudah menjadi rahasia umum), banyak sarjana yang terpaksa "melacur" dan mengambil pekerjaan yang berbeda dengan apa yang dipelajari diperguruan tinggi (contohnya: customer service). Tentunya sudah banyak usaha untuk mengatasi hal ini misalnya dengan mendirikan Pusat Antar Universitas (PAU) dan lembaga-lembaga penelitian yang diharapkan dapat bekerjasama dengan industri dan secara tidak langsung menelurkan sarjana-sarjana yang siap pakai selain meningkatkan mutu pendidikan tinggi. Kerjasama ini tampaknya sudah mulai berjalan walaupun disana sini kebanyakan tersendat-sendat.

Pada kesempatan ini, saya mencoba mengupas kemungkinan pendayagunaan lebih lanjut pra-sarana dan lembaga-lembaga di perguruan tinggi terutama untuk meningkatkan bargaining position perguruan tinggi terhadap industri. Mudah-mudahan hal ini bisa memperlancar kerjasama yang tersendat-sendat tadi. Hal ini penting, terutama untuk menarik dana dari industri untuk penelitian di perguruan tinggi yang secara langsung akan meningkatkan mutu perguruan tinggi dan lulusannya. Jadi semacam simbiosa mutualisma - industri senang memperoleh sarjana yang baik dan lebih siap pakai beserta hasil penelitiannya; perguruan tinggi juga senang memperoleh dana untuk memperbaiki mutu pendidikan maupun kesempatan untuk meneliti.

Mengapa peningkatan bargaining position ini penting? Bayangkan jika seorang dosen / peneliti diperguruan tinggi yang ingin berdedikasi (tidak ingin ngobyek) bermaksud mengadakan penelitian untuk mengembangkan ilmunya. Mengharapkan uang penelitian dari DIP? barangkali harus menunggu sampai 2-3 tahun sebelum dana turun; belum lagi terkadang harus melalui proses tender yang bertele-tele. Itupun dana yang diperoleh tidak seberapa. Akhirnya sang dosen menengok kepada Industri dengan harapan bisa memperoleh dana yang lebih baik. Apakah industri akan dengan senang hati memberikan dana? bagaimana industri bisa menjustifikasi bahwa proposal yang diajukan memang bisa dilaksanakan? apakah memungkinkan untuk memproduksi dan memasarkan ide sang dosen ini? apakah sang dosen cukup berkualifikasi dan berpengalaman? dan yang terpenting apakah industri diuntungkan dengan ide sang dosen / peneliti ini? begitu sebagian pertanyaan yang mungkin terlintas dibenak para manager di perusahaan-perusahaan. Jelas bahwa saat ini bargaining position dosen perguruan tinggi sangat lemah, apalagi sebagai pihak yang membutuhkan dana.

Apakah inti permasalahan diatas? sebetulnya sederhana, semua berkisar pada masalah pertukaran informasi antara perguruan tinggi dan industri. Sebagai contoh, berapa banyak industri elektronika dan pabrik perakitan komputer mikro yang tahu bahwa beberapa dosen di perguruan tinggi di Indonesia mampu membuat sendiri transistor, chip (IC), perangkat lunak untuk komputer dan bahkan sempat berkomunikasi lewat komputer dengan Indonesia selama belajar di luar negeri? tanpa ada usaha untuk menerangkan dari para dosen ini, saya yakin tidak banyak industri yang tahu tentang kemampuan yang terkandung dalam perguruan tinggi. Dilain pihak, berapa banyak dosen yang tahu persis kemampuan dan kebutuhan industri di Indonesia? Hal yang sama berlaku untuk industri. Jelas disini, proses pertukaran informasi antara industri dan perguruan merupakan inti untuk mengetahui kekuatan yang ada dikedua belah pihak dan akhirnya akan menaikan bargaining position dari perguruan tinggi.

Dengan semakin berkembangnya komputer, teknologi informasi elektronik komputer akan sangat memperlancar proses pertukaran informasi. Proses ini jauh lebih cepat dan sangat effisien dibandingkan media konvensional lainnya, seperti surat kabar, majalah, seminar, konferensi, fax, telepon dll. Apakah jaringan komputer telah berkembang di Indonesia? YA! beberapa perusahaan yang cukup besar seperti USI/IBM, Schlumberger dan Astra Graphia telah menyambungkan komputernya dengan jaringan komputer internasional. Saya di Canada sering berhubungan dengan teman-teman di perusahaan tersebut melalui komputer.

Bagaimana dengan dunia perguruan tinggi dan lembaga penelitian? PUSILKOM-UI telah beberapa lama berusaha mengembangkan jaringan komputer. Sayangnya tarif telepon interlokal dan SKDP relatif cukup mahal untuk perguruan tinggi negeri, akhirnya jaringan komputer ini tersendat-sendat. Mungkinkah ini salah satu contoh lemahnya bargaining position perguruan tinggi terhadap industri? Dengan adanya banyak SBK di perguruan tinggi, seperti ITB, ITS, IPB dan Universitas Indonesia Timur, alangkah bermanfa'atnya jika bisa dialokasikan 1-2% dari kapasitas sebuah transponder PALAPA untuk keperluan jaringan komputer untuk penelitian dan pendidikan di Indonesia. Bukankah salah satu misi PALAPA adalah untuk membantu dunia pendidikan? Alternatif lain (menggunakan radio), tengah digalakkan oleh ITB dengan dimotori oleh Prof. Dr. Iskandar Alisyahbana, Dr. Nasserie dan Dr. Kusmayanto Kadiman. Bahkan Prof. Alisyahbana telah berhasil memasang sebuah stasiun bumi sederhana untuk masuk ke satelit internasional komunikasi komputer radio yang memungkinkan hubungan internasional tanpa melalui SKDP. Hal ini memungkinkan pembentukan jaringan komputer biaya murah tanpa perlu bergantung sepenuhnya pada telepon.

Jelas dari penjelasan di atas bahwa infra-struktur jaringan komputer dikedua belah pihak baik industri maupun perguruan tinggi telah mulai berkembang. Tinggal bagaimana menghubungkan jaringan-jaringan komputer yang ada menjadi satu kesatuan agar diperoleh manfa'at bagi kedua belah pihak. Secara teknis sebetulnya sangat mudah. Masalah terberat adalah birokrasi dan masalah administratif dari kedua belah pihak.

Mari kita renungkan bersama, apa yang akan kita peroleh dengan menyatukan infra-struktur informasi di perguruan tinggi dan industri. Bayangkan, waktu untuk menyiapkan seorang sarjana "siap pakai" di industri menjadi lebih singkat. Di samping itu, industri memperoleh masukan alternatif solusi / rancang bangun dari hasil penelitian di perguruan tinggi untuk produksinya. Bahkan, dapat diharapkan akan terjadi perbaikan mutu barang / jasa yang dipasarkan. Dilain pihak, mutu pendidikan tinggi menjadi naik dengan adanya masukan dana tambahan dari industri. Di samping itu, ilmu pengetahuan dan pengalaman dosen dalam meneliti akan meningkat. Hal ini sangat bermanfa'at untuk memperkaya pengetahuan para mahasiswa di perguruan tinggi. Hal lain yang akan sangat positif, perguruan tinggi akan dipaksa untuk memacu diri dalam membentuk dan membenahi jenjang pendidikan S2 dan S3 untuk menyediakan tenaga peneliti di perguruan tinggi yang secara langsung akan meningkatkan ilmu pengetahuan dan mutu pendidikan tinggi di Indonesia. Akhirnya, perguruan tinggi dan industri menjadi saling mengetahui akan kebutuhan, kemampuan maupun kekuatan yang ada di samping kemungkinan untuk bertukar informasi dan pengalaman.

Hal lain yang terpenting, dengan adanya jaringan komputer, seluruh jaringan birokrasi dan administratif yang sangat menghambat pekerjaan dapat dengan mudah dihilangkan / dilewati. Tidak perlu lagi kita membuang waktu menunggu di ruang tunggu hanya untuk meminta tanda tangan / bertemu dengan seorang kepala biro. Jejang administratif secara tidak sadar dapat dipersempit, contohnya, seorang dosen muda di perguruan tinggi dapat langsung berhubungan dengan direktur perusahaan tanpa menanti di ruang tunggu serta berhadapan dengan berbagai prosedur administratif melalui berlapis sekertaris. Tidak perlu lagi bersusah payah mengumpulkan seluruh staf ahli / peneliti hanya untuk rapat bulanan. Rapat dapat dilakukan tanpa perlu bertatap muka setiap hari bahkan setiap menit melalui surat elektronis. Jelas bahwa waktu untuk pemroses suatu pekerjaan dapat sangat dipersingkat.

Bukan mustahil dengan terbentuknya jaringan komputer ini, kita akan melihat sebuah revolusi informasi, industri dan ilmu pengetahuan di Indonesia. Memang untuk merealisasi semua ini dibutuhkan kerja keras (terutama membenahi masalah birokrasi dan administratisi) dari pihak industri maupun perguruan tinggi. Tapi saya pribadi yakin bahwa semua ini bukan hal yang mustahil melihat potensi yang terkandung di perguruan tinggi maupun industri, apalagi jika didasari dengan keinginan dan niat baik dari berbagai pihak yang terkait. Bukan hanya perguruan tinggi dan industri yang akan memperoleh keuntungan oleh sistem ini, tapi juga seluruh rakyat Indonesia.